Tampilkan postingan dengan label E-Book Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label E-Book Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Agustus 2012

Ebook Kumpulan Cerita Islami (By Syihab)

Daftar Isi:
1. Sebutir Korma Penjegal Do’a
2. Salman Al-Faris R.A
3. Taubatnya Malik Bin Dinar
4. Rasa Kasih Terlihat Dalam Mata
5. Asal-Usul Kumandang Adzan
6. Tidur Dan Kematian
7. Kalung Anisa
8. Tegakkan Sholat Phk Didapat
9. Nasehat Yang Jitu
10. Nasihat Bagi Penguasa
11. Abu Nawas Dan Terompah Ajaib (2)
12. Wanita Pemerah Susu Dan Anak Gadisnya
13. Harta Titapan Bani Umayah
14. Ziyad Bin Abu Sufyan
15. Abu Hanifah Dan Tetangganya
16. Mulailah Bicara
17. Alhamdulillah
18. Tukang Bekam Bersama Al Hajjaj
19. Al-Balkhi Dan Si Burung Pincang.
20. Sok Tahu
21. Obat Penyubur
22. Shuhaib Dan Algojo
23. Rasyid Bin Zubair Dan Wanita Kairo
24. Istri Kedua
25. Percakapan Musa Dengan Tuhannya
26. Tidak Layak
27. Menyuruh Wanita Berperang
28. Ghasilil Malaikat (Orang Yang Dimandikan Malaikat)
29. Peti Ummul Banin
30. Penjual Minyak Wangi Dan Seuntai Kalung
31. Amir Andalusia Dan Budak Perempuannya

Download
Kumpulan Cerita Islami (By Syihab)
Read more »

Rabu, 01 Agustus 2012

Sirah Nabawiyah (Dr. Mustafa as-Syibaie)

Prakata - Catatan ini saya tulis secara tergesa-gesa dan ketika itu saya sedang sakit tenat. Iaitu
selepas saya menyampaikannya dalam beberapa kuliah kepada mahasiswa tahun pertama
Fakulti Syariah. Dalam catatan tersebut saya cungkilkan beberapa aspek qudwah yang
terdapat dalam sirah Rasulullah s.a.w.. Setiap individu Islam, para pendakwah, ulama dan
fuqaha hendaklah meneliti dan sentiasa meneliti sirah Baginda s.a.w.. Supaya mereka
memiliki kemuliaan lantaran mengambil teladan daripada Rasulullah s.a.w.. Agar mereka
juga mampu membuka pintu kejayaan dakwah kepada manusia dan mendapat keredhaan
Allah serta segala amalnya diterima. Mudah-mudahan mereka mendapat kemuliaan berada
bersama Rasulullah s.a.w. di dalam syurga yang kekal abadi. 

Download
Read more »

Selasa, 31 Juli 2012

Azab dan Sengsara (Novel)



(KISAH KEHIDUPAN SEORANG GADIS)


Pengarang : Merari Siregar

Penerbit : Balai Pustaka



Umumnya, para pengamat sastra Indonesia menempatkan novel Azab dan sengsara ini sebagai novel pertama di Indonesia dalam khazanah kesusastraan Indonesia modern. Penempatan novel ini sebagai novel pertama lebih banyak didasarkan pada anggapan bahwa kesusastraan Indonesia modern lahir tidak dari peran berdirinya Balai Pustaka. 1917, yang cikal bakalnya berdiri tahun 1908. Sungguhpun sebenarnya tidak sedikit novel yang terbit sebelum Balai Pustaka berdiri, dalam hal pemakaian bahasa Melayu sekolahan, Azab dan Sengsara yang mengawalinya. Dalam konteks itulah novel ini menempati kedudukan penting.

Tema Azab dan Sengsara sendiri yang mempermasalahkan perkawinan dalam hubungan nya dengan harkat dan martabat keluarga, bukanlah hal yang baru. Novel-novel yang terbit di luar Balai Pustaka-yang umumnya menggunakan bahasa Melayu rendah atau bahasa Melayu pasar-juga banyak yang bertema demikian. Novel bahasa Sunda, Baruang ka Nu Ngora (Racun Bagi Kaum Muda; 1914) karya D.K. Ardiwinata (1866-1947) yang diterbitkan Balai Pustaka, juga bertema perkawinan dalam hubungannya dengan harkat dan martabat keluarga. Jadi, secara tematik, novel Azab dan Sengsara, belumlah secara tajam mempermasalahkan perkawinan dalam hubungannya dengan adat.

Ini ringkasannya

Aminuddin adalah anak Baginda Diatas, seorang kepala kampong yang terkenal kedermawanan dan kekayaannya. Masyarakat disekitar Sipirok amat segan dan hormat kepada keluarga itu. Adapun Mariamin, yang masih punya ikatan dengan keluarga itu, kini tergolong anak miskin. Ayah Mariamin, Sutan Baringin almarhum, sebenarnya termasuk keluarga bangsawan kaya. Namun, karena semasa hidupnya terlalu boros dan serakah, ia akhirnya jatuh miskin dan meninggal dalam keadaan demikian.

Bagi Aminuddin, kemiskinan keluarga itu tidaklah menghalanginya unuk tetap bersahabat dengan Mariamin. Keduanya memang sudah berteman akrab sejak kecil dan terus meningkat hingga dewasa. Tanpa terasa benih cinta kedua remaja itu pun tumbuh subur. Belakangan, mereka sepakat untuk hidup bersama, membina rumah tangga. Aminuddin pun berjanji hendak mempersunting gadis itu jika kelak ia sudah bekerja. Janji pemuda itu akan segera dilaksanakan jika ia sudah mendapat pekerjaan di Medan. Aminuddin segera mengirim surat kepada kekasihnya bahwa ia akan segera membawa Mariamin ke Medan.

Berita itu tentu saja amat menggermbirakan hati Mariamin dan ibunya yang memang selalu berharap agar kehidupannya segera berubah. Setidak-tidaknya, ia dapat melihat putrinya hidup bahagia.

Niat Aminuddin itu disampaikan pula kepada kedua orang tuanya. Ibunya sama sekali tidak berkeberatan. Bagaimanapun, almarhum ayah Mariamin masih kakak kandungnya sendiri. Maka, jika putranya kelak jadi kawin dengan Mariamin, perkawinan itu dapatlah dianggap sebagai salah satu usaha menolong keluarga miskin itu.

Namun, lain halnya pertimbangan Baginda Diatas, Ayah Aminuddin. Sebagai kepala kampung yang kaya dan disegani, ia ingin agar anaknya beristrikan orang yang sederajat. Menurutnya, putranya lebih pantas kawin dengan wanita dari keluarga kaya dan terhormat. Oleh karena itu, jika Aminuddin kawin dengan Mariamin, perkawinan itu sama halnya dengan merendahkan derajat dan martabat dirinya. Itulah sebabbya, Baginda Diatas bermaksud menggagalkan niat putranya.

Untuk tidak menyakiti hati istrinya, Baginda Diatas mengajaknya pergi ke seorang dukun untuk melihat bagaimana nasib anaknya jika kawin dengan Mariamin. Sebenarnya, itu hanya tipu daya Baginda Diatas. Oleh karena sebelumnya, dukun itu sudah mendapat pesan tertentu, yaitu memberi ramalan yang tidak menguntungkan rencana dan harapan Aminuddin. Mendengar perkataan si dukun bahwa Aminuddin akan mengalami nasib buruk jika kawin dengan Mariamin, ibu Aminuddin tidak dapatberbuat apa-apa selain menerima apa yang menurut suaminya baik bagi kehidupan anaknya.

Kedua orang tua Aminuddin akhirnya meminang seorang gadis keluarga kaya yang menurut Baginda Diatas sederajat dengan kebangsawanan dan kekayaannya. Aminuddin yang berada di Medan, sama sekali tidak mengetahui apa yang telah dilakukan orang tuanya. Dengan penuh harapan, ia tetap menanti kedatangan ayahnya yang akan membawa Mariamin.

Selepas peminangan itu, ayah Aminuddin mengirim telegram kepada anaknya bahwa calon istrinya akan segera dibawa ke Medan. Ia juga meminta agar Aminuddin menjemputnya di stasiun.

Betapa sukacita Aminuddin setelah membaca telegram ayahnya. Ia pun segera mempersiapkan segala sesuatunya. Ia membayangkan pula kerinduannya pada Mariamin akan segera terobati.

Namun, apa yang terjadi kemudian hanyalah kekecewaan. Ternyata, ayahnya bukan membawa pujaan hatinya, melainkan seorang gadis yang bernama Siregar. Sungguhpun begitu, sebagai seorang anak, ia harus patuh pada orang tua dan adapt negerinya. Aminuddin tidak dapat berbuat apa-apa selain menerima gadis yang dibawa ayahnya. Perkawinan pun berlangsung dengan keterpaksaan yang mendalam pada diri Aminuddin. Berat hati pula ia mengabarkannya pada Mariamin.

Bagi Mariamin, berita itu tentu saja sangat memukul jiwanya. Harapannya musnah sudah. Ia pingsan dan jatuh sakit sampai beberapa lama. Tak terlukiskan kekecewaan hati gadis itu.

Setahun setelah peristiwa itu, atas kehendak ibunya, Mariamin terpaksa menerima lamaran Kasibun, seorang lelaki yang sebenarnya tidak diketahui asal-usulnya. Ibunya hanya tahu, bahwa Kasibun seorang kerani yang bekerja di Medan. Menurut pengakuan lelaki itu, ia belum beristri. Dengan harapan dapat mengurangi penderitaan ibu-anak itu, ibu Mariamin terpaksa menjodohkan anaknya dengan Kasibun. Belakangan diketahui bahwa lelaki itu baru saja menceraikan istrinya hanya karena akan mengawini Mariamin.

Kasibun kemudian membawa Mariamin ke Medan. Namun rupanya, penderitaan wanita itu belum juga berakhir. Suaminya ternyata mengidap penyakit berbahaya yang dapat menular bila keduanya melakukan hubungan suami-istri. Inilah sebabnya, Mariamin selalu menghindar jika suaminya ingin berhubungan intim dengannya. Akibatnya, pertengkaran demi pertengkaran dalam kehidupan rumah tangga itu tak dapat dihindarkan. Hal yang dirasakan Mariamin bukan kebahagiaan, melainkan penderitaan berkepanjangan. Tak segan-segan Kasibun menyiksanya dengan kejam.

Dalam suasana kehidupan rumah tangga yang demikian itu, secara kebetulan, Aminuddin dating bertandang. Sebagaimana lazimnya kedatangan tamu, Mariamin menerimanya dengan senang hati, tanpa prasangka apa pun. Namun, bagi Kasibun, kedatangan Aminuddin itu makin mengobarkan rasa cemburu dan amarahnya. Tanpa belas kasihan, ia menyiksa istrinya sejadi-jadinya.

Tak kuasa menerima perlakuan kejam Kasibun, Mariamin akhirnya mengadu dan melaporkan tindakan suaminya kepada polisi. Polisi kemudian memutuskan bahwa Kasibun harus membayar denda dan sekaligus memutuskan hubungan tali perkawinan dengan Mariamin.

Janda Mariamin akhirnya terpaksa kembali ke Sipirok, kampong halamannya. Tidak lama kemudian, penderitaay yang silih berganti menimpa wanita itu, sempurna sudah dengan kematiannya. “Azab dan sengsara dunia ini telah tinggal di atas bumi, berkubur dengan jasad yang kasar itu.” (hlm. 163).
Download: Azab dan Sengsara
Read more »

Rabu, 09 Maret 2011

Fiqhus Sunnah (Sayyid Sabiq)

Read more »

Selasa, 08 Maret 2011

Kitab Fathul Bari Karya Ibnu Hajar Al Atsqalani


Judul Asli: "Fathul Bari Mahkota Ibnu Hajar Al Asqalani Rahimahullah"
Sumber: Majalah Asy Syariah halaman 48
Vol I/No.40/Desember 2003/Syawwal 1424 H

Al Ustadz Ahmad Hamdani Ibnu Muslim

Memanfaatkan usia sehat dan karunia waktu yang Allah berikan dengan mempelajari ilmu-ilmu syariat yang bersumber dari manusia terbaik dengan kesungguhan dan totalitas merupakan aktivitas yang utama. Adalah Al-Imam Abu Abdillah Al-Bukhari, seorang imam yang telah mencuplik secercah cahaya Al-Kitab dan As-Sunnah yang kemudian beliau kumpulkan di dalam kitabnya Shahih Al-Jami’ yang kemudian populer dengan Shahih Al-Bukhari.
Memahami kitab ini akan lebih sempurna dan sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya bila dilengkapi dengan kitab-kitab yang menjelaskan maksud-maksud, faidah-faidah, kaidah-kaidah yang dipakai penulis, uslub (gaya bahasa) penulisan dan lain sebagainya. Terlebih kitab Shahih Al-Bukhari bisa diibaratkan makanan setengah matang. Karena di dalamnya terdapat hadits-hadits yang nasikh dan mansukh, umum dan khusus sehingga membutuhkan keterangan ulama yang memang ahli di banyak bidang ilmu syariat.
Dengan metode ini, syariat yang dibawa oleh Rasulullah yang bersifat rahmatan lil ‘alamin dan shalih (cocok) untuk segala jaman dan tempat, dapat tersebar. Bukan sekedar kitab yang sulit diaplikasikan di alam nyata. Nampaknya pesan inilah yang hendak disampaikan oleh Ahmad Bin ‘Ali Bin Muhammad Bin Muhammad Bin ‘Ali Al-Asqalani.
Beliau lebih dikenal dengan nama Ibnu Hajar Al-Asqalani, seorang ahli hadits, mufti dan hakim agung di Mesir. Kitab syarah (penjelasan) Shahih Al-Bukhari hasil tulisannya merupakan kitab syarah Shahih Al-Bukhari terbagus dari sekian kitab syarah lainnya dan dianggap mahkota karya-karya Ibnu Hajar Al-Asqalani yang mencapai 150 judul baik yang besar maupun yang kecil.
Penulis kitab Kasyfuz Zhunun, Musthafa Bin Abdullah Al-Qisthanthini Ar-Rumi seorang ‘Alim bermahdzab Hanafi (wafat tahun 1067 M) menyebutkan, "Kitab syarah Al-Bukhari yang paling agung adalah kitab Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari[1] karya Ibnu Hajar. Mukadimahnya mencakup 10 pasal yang ia namakan Hadyus Sari. Keistimewaan, keajaiban, dan kepopuleran kitabnya disebabkan cakupan faidah-faidah dan hukum-hukum fiqhiyyah yang sulit diilustrasikan. Terlebih pembahasan sisi sanad hadits sangat luas dan mendalam."
Begitu menjiwai dan menjelaskan kitab Shahih Al-Bukhari menjadikan pembacanya seolah-olah melihat Ibnu Hajar yang bermahdzab Syafi’i, hidup sejaman dengan Al-Bukhari, duduk di depannya, mendengarkan pelajarannya, mendengar hadits lalu menyerap, mengetahui ilmu-ilmu, sanad-sanad yang shahih dan lemah, serta hikmah-hikmah hadits.
Asy-Syaikh Muqbil Rahimahullah dalam kitabnya Ijabatus Sail menganjurkan para pencari ilmu mempelajarinya. Meskipun kitab ini tidak dianjurkan dibaca bagi pencari ilmu yang pemula namun keberadaanya sangat penting karena dibutuhkan oleh ummat Islam dalam memahami As Sunnah sebagai jalan hidup mereka.
Sunnatullah berlaku, selain Al Qur’an tak ada satu kitab pun karya manusia yang sempurna. Demikian juga dengan Fathul Bari. Pembaca kitab ini mesti berhati-hati manakala menjumpai pembahasan nama-nama dan sifat-sifat Allah agar tidak terjerumus ke dalam metodologi takwil (menafsirkan tidak sesuai dengan teks lafadznya) yang diadopsi penulisnya dari kaidah Asy’ariyyah yang telah ditinggalkan oleh Abul Hasan Al Asy’ary si pencetusnya sendiri, yang tentunya tidak sesuai dengan manhaj salaf.
Wallahu a’lam

Catatan kaki:
[1] Dalam penukilan para Ulama, terkadang disebut secara ringkas dengan AL-FATH atau AL-FATHU

Dowmload:
PDF jilid 3
Read more »

Selasa, 30 November 2010

Struktur Negara Khilafah (Pemerintahan dan Administrasi)

HTI-Press. Segala pujian milik Allah. Shalawat dan salam semoga dicurahkan kepada Rasulullah saw.; kepada keluarga, para Sahabat, dan orang-orang yang mengikuti Beliau.
Allah SWT berfirman:
وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka; dan akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku tanpa mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Siapa saja yang tetap kafir sesudah janji itu maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS an-Nur [24]: 55).
Rasulullah saw. pernah bersabda: 

«تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا اللهُ إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ»
“Di tengah-tengah kalian terdapat masa Kenabian yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada masa Kekhilafahan yang mengikuti manhaj Kenabian yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu saat Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada masa kekuasaan yang zalim yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada masa kekuasaan diktator yang menyengsarakan, yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu saat Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Selanjutnya akan muncul kembali masa Kekhilafahan yang mengikuti manhaj kenabian.” Setelah itu Beliau diam. (HR Ahmad).

Sesungguhnya kami, di Hizbut Tahrir, senantiasa mengimani janji Allah SWT dan membenarkan kabar gembira yang disampaikan oleh Rasulullah saw. di atas. Kami selalu berjuang bersama-sama dengan umat Islam untuk wujudkan janji Allah dan kabar gembira dari Rasulullah saw. ini, yakni mewujudkan kembali Khilafah dalam wujud yang baru. Kami sangat meyakini terwujudnya kembali Khilafah itu seraya memohon kepada Allah SWT, semoga Dia memuliakan kami dengan tegaknya Khilafah; agar kami dapat menjadi tentaranya; agar kami mampu meninggikan râyah (bendera)-nya dengan baik dan di atas kebaikan; dan agar kami—dengan Khilafah itu—bisa beralih dari satu kemenangan ke kemenangan yang lain. Allah Mahakuasa atas semua itu.

Kami sangat senang karena dalam buku ini kami bisa mengisinya dengan struktur pemerintahan dan administrasi di dalam Daulah Khilafah dengan pengungkapan yang jelas, mudah dipahami, dan bersifat praktis. Lebih dari itu, isi buku ini dihasilkan dari penggalian hukum (istinbâth) dan penelusuran dalil (istidlâl) yang sahih, yang mampu menenteramkan hati dan menyinari dada.
Yang mendorong kami menyusun buku ini adalah adanya kenyataan bahwa berbagai sistem pemerintahan yang ada di dunia saat ini sangat jauh dari sistem pemerintahan Islam, baik dari segi bentuk maupun isinya. Dari segi isinya, hal itu sangat jelas bagi kaum Muslim, yakni bahwa semua sistem pemerintahan kontemporer saat ini tidak diambil dari al-Quran dan Sunnah Nabi-Nya serta apa yang ditunjukkan oleh keduanya. Sistem-sistem yang ada saat ini bertentangan dengan sistem Islam. Kenyataan ini dapat diindera dan diraba oleh kaum Muslim; mereka tidak berbeda pendapat dalam hal ini.

Akan tetapi, yang mungkin menimbulkan kebingungan dalam diri kaum Muslim adalah dugaan mereka, bahwa sistem pemerintahan dalam Islam dilihat dari segi strukturnya tidak berbeda dengan sistem-sistem pemerintahan kontemporer. Oleh karena itu, mereka tidak melihat adanya keberatan jika di dalam sistem Islam itu terdapat kabinet, para menteri, dan semisalnya, dengan realita dan wewenang sebagaimana yang ada dalam sistem pemerintahan yang ada saat ini. Oleh karena itu pula, dalam buku ini kami berketetapan hati untuk memfokuskan pembahasan pada struktur pemerintahan dalam Daulah Khilafah. Dengan begitu, bentuk struktur Daulah Khilafah itu dapat dipahami di dalam benak kaum Muslim, sebelum—dengan izin Allah—terwujud secara nyata di depan mata.

Kami juga telah mencantumkan pembahasan mengenai Ar-Râyah (Panji) dan al-Liwâ’ (Bendera) Daulah Khilafah. Sebetulnya masih terdapat beberapa perkara penting lainnya yang tidak kami cantumkan di dalam buku ini, tetapi akan kami umumkan pada waktunya nanti, yakni pada saat kami nanti mengeluarkan undang-undang yang berkaitan dengan perkara-perkara tersebut dalam suplemen buku ini, atas izin Allah. Perkara-perkara tersebut adalah: tatacara pemilihan Khalifah, penentuan redaksi baiat, penentuan wewenang amir sementara dalam kondisi Khalifah berada dalam tawanan yang memiliki kemungkinan bebas atau dalam kondisi tidak ada kemungkinan bebas, pengorganisasian kepolisian wilayah (propinsi) dari segi implementasi dan administrasi, penentuan kepolisian wanita dalam direktorat keamanan dalam negeri, tatacara pemilihan Majelis Wilayah (Majelis Propinsi) dan Majelis Umat, serta penggunaan slogan resmi negara. Kami telah menunjukkan perkara-perkara tersebut di dalam buku ini.

Kita memohon kepada Allah, semoga Dia segera menolong kita, melimpahkan karunia-Nya kepada kita, dan memuliakan kita dengan kemuliaan dan keagungan-Nya. Semoga dengan itu umat ini kembali menjadi umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia. Semoga dengan itu pula Daulah Islam kembali menjadi negara adidaya di dunia, yang menyebarkan kebaikan di segala penjurunya dan menebarkan keadilan di segala sisinya. Pada hari itu kaum Mukmin akan bergembira karena pertolongan Allah dan dengan semua itu Allah akan mengobati dada-dada kaum Mukmin.
Seruan kami yang terakhir, segala pujian hanya milik Allah SWT, Tuhan alam semesta. []



Read more »

Selasa, 23 November 2010

Syakhshiyah Islamiyah (Buku 1)



Kepribadian setiap manusia terbentuk dari aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap). Kepribadian tidak ada kaitannya dengan bentuk tubuh, asesori dan sejenisnya. Semua itu hanya (penampakan) kulit luar belaka. Merupakan kedangkalan berpikir bagi orang yang mengira bahwa asesoris merupakan salah satu faktor pembentuk kepribadian atau mempengaruhi kepribadian. Manusia memiliki keistimewaan disebabkan akalnya, dan perilaku seseorang adalah yang menunjukkan tinggi rendahnya akal seseorang, karena perilaku seseorang di dalam kehidupan tergantung pada mafahim (persepsi)nya, maka, dengan sendirinya tingkah lakunya terkait erat dengan mafahimnya dan tidak bisa dipisahkan. Suluk (tingkah laku) adalah aktifitas yang dilakukan manusia dalam rangka memenuhi gharizah (naluri) atau kebutuhan jasmaninya. Suluk berjalan secara pasti sesuai dengan muyul (kecenderungan) yang ada pada diri manusia untuk mencapai kebutuhan tersebut. Dengan demikian mafahim dan muyulnya merupakan tonggak atau dasar dari kepribadian.
Lalu, apa sebenarnya yang dinamakan dengan mafahim? Tersusun atas apa mafahim ini, dan apa saja yang dihasilkannya? Kemudian apa yang dinamakan dengan muyul? Apa yang memuncul-kannya, dan apa saja pengaruhnya? Perkara-perkara ini memerlukan penjelasan.
Mafahim adalah makna-makna pemikiran bukan makna-makna lafadz. Lafadz adalah perkataan yang menunjukkan kepada makna-makna. Terkadang ada faktanya, terkadang pula tidak ada. Seorang penyair berkata:

Diantara para ksatria, ada seseorang yang jika engkau serang
Bagaikan piramid besi yang amat kokoh
(Tetapi) jika engkau lontarkan kebenaran (akidah) di hadapannya
Luluhlah keperkasaannya, dan hancurlah mereka

Makna dari syair ini ada faktanya dan dapat dipahami, meskipun untuk memahaminya perlu kedalaman dan kejernihan berpikir. Ini sangat berbeda dengan perkataan penyair:

Mereka berkata, Apakah orang itu mampu menembuskan tombak pada dua orang serdadu sekaligus
Pada hari pertempuran, dan kemudian tidak menganggapnya itu sebagai hal yang dahsyat
Kujawab mereka, andaikan panjang tombaknya satu mil, tentu akan
menembus serdadu yang berbaris sepanjang satu mil

Makna syair tersebut tidak ada faktanya sama sekali. Seseorang tidak mampu menembuskan tombak pada dua orang sekaligus. Pada kenyataannya tidak ada satu orangpun yang menanyakan hal itu. Begitu pula tidak mungkin ia menusukkan tombak sepanjang satu mil. Makna-makna yang terdapat dalam kalimat tersebut di atas menjelaskan dan menafsirkan lafadz-lafadz syair itu.
Adapun makna pemikiran adalah apabila makna yang dikandung oleh suatu lafadz memiliki fakta yang dapat diindera atau dapat dibayangkan di dalam benak sebagai sesuatu yang bisa di indera, dan dapat dibenarkan. Maka makna semacam ini menjadi mafhum (persepsi) bagi orang yang dapat mengindera atau mem-bayangkannya di dalam benak. Namun hal itu tidak menjadi mafhum bagi orang yang belum mampu mengindera dan membayangkannya, meskipun orang tersebut memahami secara langsung makna kalimat yang disampaikan kepadanya atau yang dibacanya. Berdasarkan hal ini merupakan suatu keharusan bagi seseorang untuk menerima ungkapan yang dibaca atau didengarnya dengan cara berpikir. Artinya, dia harus memahami makna kalimat sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh kalimat tersebut, bukan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh orang yang mengatakannya atau dia inginkan ada. Pada saat yang sama dia harus memahami fakta tentang makna tersebut di dalam benaknya dengan pemahaman yang bisa mewujudkan fakta tersebut, sehingga makna-makna itu menjadi mafahim. Jadi, mafhum adalah makna-makna yang bisa dipahami, ada faktanya di dalam benak, baik fakta itu dapat diindera di alam luar ataupun memang tidak bisa dibantah lagi (keberadaannya) bahwa ia memang ada di alam luar berdasarkan bukti yang bisa diindera. Selain dari hal itu tidak bisa disebut mafhum, dan hanya sekedar ma’lumat (informasi) saja.
Mafahim ini terbentuk dari jalinan antara fakta/realita dengan ma’lumat atau sebaliknya. Memusatnya pembentukan mafahim selaras dengan satu kaedah atau lebih yang dijadikan tolok ukur bagi ma’lumat dan fakta tersebut ketika berjalin. Artinya, pada saat berjalin sesuai dengan pola pikirnya terhadap fakta dan informasi, yaitu sesuai dengan pemahamannya terhadap ma’lumat dan fakta tersebut. Kemudian terbentuklah pada seseorang pola pikir (aqliyah) yang dapat memahami lafadz-lafadz dan kalimat-kalimat, serta memahami makna-makna yang sesuai dengan kenyataan yang tergambar dalam benaknya. Setelah itu barulah dia menentukan sikap (hukum) terhadapnya. Dengan demikian, aqliyah adalah cara yang digunakan dalam memahami atau memikirkan sesuatu. Dengan ungkapan lain aqliyah adalah cara yang digunakan untuk mengkaitkan fakta dengan ma’lumat, atau ma’lumat dengan fakta, berdasarkan suatu landasan atau beberapa kaedah tertentu. Dari sinilah munculnya perbedaan pola pikir (aqliyah), seperti pola pikir Islami, Sosialis, Kapitalis, Marxis dan pola pikir lainnya. Apa yang dihasilkan oleh mafahim adalah sebagai penentu tingkah laku manusia terhadap fakta yang ditemuinya. Juga sebagai penentu corak kecenderungan manusia terhadap fakta tadi, berupa (sikap) menerima atau menolak. Kadangkala dapat membentuk kecenderungan dan perasaan tertentu.
Adapun muyul adalah dorongan yang mendorong manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Muyul selalu terikat dengan mafahim yang dimilikinya tentang sesuatu yang ingin dipenuhinya tadi. Yang memunculkan muyul adalah potensi hidup pada manusia yang mendorongnya untuk memuaskan gharizah (naluri) dan kebutuhan jasmaninya, serta jalinan yang terjadi antara potensi (hidup) dengan mafahim.
Muyul itu sendiri, yaitu dorongan-dorongan yang terkait dengan mafahim tentang kehidupan, yang membentuk nafsiyah (pola sikap) manusia. Nafsiyah adalah cara yang digunakan oleh manusia untuk memenuhi gharizah (naluri) dan kebutuhan jasmani. Dengan kata lain, nafsiyah adalah cara yang digunakan manusia dengan mengkaitkan dorongan pemenuhannya dengan mafahim. Nafsiyah merupakan gabungan antara dorongan (pemenuhan) dengan mafahim, yang berlangsung dalam diri manusia secara alami terhadap sesuatu yang ada di hadapannya yang dijalin dengan mafahimnya tentang kehidupan.
Berdasarkan aqliyah dan nafsiyah ini terbentuklah kepribadian (syakhshiyah). Akal atau pemikiran, sekalipun diciptakan bersama dengan manusia dan keberadaannya pasti bagi setiap manusia, akan tetapi pembentukan aqliyah terjadi melalui usaha manusia itu sendiri. Begitu pula dengan muyul, sekalipun melekat pada diri manusia dan keberadaannya pasti ada pada setiap manusia, akan tetapi pemben-tukan nafsiyah terjadi melalui usaha manusia. Hal itu disebabkan, karena yang menjelaskan makna suatu pemikiran sehingga menjadi mafhum adalah adanya satu atau lebih kaedah yang dijadikan sebagai tolok ukur untuk ma’lumat dan fakta/realita ketika seseorang berpikir; dan yang menjelaskan dorongan (keinginan) sehingga menjadi muyul adalah gabungan yang terjadi antara dorongan dengan mafahim. Jadi, adanya satu atau lebih kaedah yang dijadikannya sebagai tolok ukur untuk ma’lumat dan fakta/realita ketika manusia berfikir, mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan aqliyah dan nafsiyah. Pembentukan yang khas tersebut mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan kepribadian. Apabila satu atau beberapa kaedah yang digunakan dalam pembentukan aqliyah sama dengan yang digunakan untuk pembentukan nafsiyah, maka akan muncul pada seseorang kepribadian (syakhshiyah) yang istimewa dengan corak yang khas. Namun, jika satu atau beberapa kaedah yang digunakan dalam pembentukan aqliyah berbeda dengan yang digunakannya dalam pembentukan nafsiyah, maka aqliyahnya berbeda dengan nafsiyahnya. Pada saat itu muyul yang dimilikinya menjadikan satu atau beberapa kaedah sebagai tolok ukurnya, yang dikaitkan dengan dorongannya yang bertumpu pada mafahim yang bukan membentuk aqliyahnya. Maka terbentuklah kepribadian yang tidak memiliki ciri khas. Kepribadian (syakhshiyah) yang bercampur. Pemikirannya berbeda dengan kecenderungan (muyul)nya. Karena ia memahami lafadz-lafadz dan kalimat-kalimat serta berbagai fakta dengan cara yang berbeda dengan kecenderungan-nya terhadap sesuatu yang ada disekelilingnya.
Berdasarkan hal ini maka solusi atas kepribadian dan pemben-tukannya hanya dengan cara mewujudkan satu kaedah yang sama bagi aqliyah dan nafsiyahnya. Yaitu menjadikan kaedah yang sama, baik yang dijadikan sebagai tolok ukur tatkala menyatukan informasi dengan fakta/realita, maupun yang dijadikan sebagai asas penggabungan antara berbagai dorongan dengan mafahim. Dengan cara pembentukan kepribadian (syakhshiyah) seperti itu (yaitu berlandaskan pada satu kaedah dan tolok ukur yang sama) akan terbentuk kepribadian yang istimewa.


KLIK DI SINI 001-194: 001-194-syakhshiyah-1-indonesia
KLIK DI SINI 195-394: 195-394-syakhshiyah-1-indonesia
KLIK DI SINI 395-564: 395-564-syakhshiyah-1-indonesia
Edisi arab (Download) 
Read more »

Senin, 22 November 2010

Di Bawah Lindungan Ka'bah (Buya Hamka)

Sebuah kisah cinta dua anak muda yang tidak dapat dipersatukan karena perbedaan derajat dan aturan pergaulan hidup. Keduanya memendam cinta namun tak mampu untuk mengungkapannya. Kisah yang diawali dengan penderitaan Hamid seorang bocah kecil yang telah ditinggal mati ayahnya dan tersingkir dari kerabat karena telah jatuh miskin. Tak kuat dengan penderitaannya akhirnya Ibunya mengajaknya pergi untuk melupakan semua kenangan dan kerabatnya. Ditempat barunya untuk memenuhi hidup Hamid kecil berjualan pisang goreng keliling kampung. Menjelang usia sekolah Hamid ingin sekali bersekolah sebagaimana yang di inginkan almarhum ayahnya. Memang nasib baik bersama Hamid, saat itulah dia dipertemukan dengan bangsawan yang menjadi langganan dagangannnya. Hamid dan ibunya diajak untuk tinggal bersama dan disekolahkan pula. Bangsawan tersebut hanya mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Zaenab dan usianya sebaya. Hari-hari dilalui Hamid dan Zaenad dengan penuh suka cita bermain, bercanda, belajar dan semuanya. Tanpa terasa sudah keduanya telah lulus sekolah. Hamid akan melanjutkan ke Makkah sedangkan Zaenab harus dipingit sampai datang seorang suami untuknya. Saat jarak memisahkan mereka itulah ada rasa yang telah hilang, ya ternyata telah ada rasa cinta. Ibu Hamid mengetahui perasaan anaknya dan berpesan agar mememdam rasa itu karena derajat kita. Sepeninggalannya ayah Zaenad, Hamid sudah jarang berkunjung kerumah Zaenab, namun diperjalanan Hamid bertemu ibu Zaenad dan memohon utuk berkunjung kerumahnya. Hamid memenuhi permintaan ibu angkatnya, disitulah ibunya meminta untuk melunakan hati Zaenab agar mau menikah dengan kemenakan ayahnya. Dengan berat hati dia utarakan niat ibunya pada Zaenab tapiditolaknya.  Sepeninggalan ibunya Hamid perputus asa karena gadis pujaanyapun akan jadi milik orang, akhirnya dia pergi jauh kenegri orang tanpa pamit pada Zaenab, hanya selembar surat yang pertama dan untuk terakhir yang dia tulis untuk kekasih hatinya.
Berbulan bulan dinanti sampai tahun berganti Zaenab menanti. Ingin membalas surat dan mengungkap isi hati tapi kemana harus dilayangkan suratku ini nanti . Ya Zaenab menolak perjodohan itu karena dihatinya sudah ada Hamid yang telah menjadi sahabatnya sejak kecil. Ditempat Hamid sekarang tinggal ia hanya menghabiskan waktunya untuk beribadah dan mengerjakan sesuatu yang semata mata karena Allah. Setelah 2 tahun perpisahannya dia bertemu dengan sahabat lamanya yang telah menikah dengan teman dekat Zaenab saat itulah Hamid baru tahu kalau Zaenab juga punya rasa yang sama. Senang hati matanya berbinar-binar dan rencananya akhir tahun akan pulang menemui sang pujaan.
Beberapa hari kemudian Hamid mendapat surat dari Zaenab yang menggungkap parasaan hatinya, namun karena sudah terlalu lama memikul penderitaan cintanya dia sudah sakit-sakitan badannya kurus dan lemah, seandainya abang terlambat pulang hanya tinggal jejak tanah merah yang didapatkan. Semenjak mendapat surat Zaenab kondisi Hamid menurun ia sakit sakitan dan tidak mau makan. Beberapa hari kemudian datang surat kawat yang mengabarkan Zaenab telah meninggal. Hamid dalam kondisi yang sudah lemah akhirnya dibawa dengan tandu ke Masjidil Haram , dibawanya dia tawaf keliling ka'bah 7 kali. Sampai pada yang ke tujuh berhenti diantara pintu Ka'bah dan Batu Hitam tempat yang bernama Multazam.  Terlihat pada muka Hamid tanda-tanda kematian, dia ulurkan tangannya dipegangnya kiswah kuat-kuat dengan tangannya yang kurus, dia berdoa. "Ya Rabbi, Ya Tuhanku yang maha pengasih lagi penyayang! Bahwasannya dibawah Lindungan Ka'bah rumah Engkau yang suci dan terpilih ini saya menadahkan tangan memohon karunia. Hanya kepada Engkau aku memohon ampun, Engkaulah tempatku bergantung dan kepada Engkaulah pintu ku ketuk. Berilah kelapangan jalan buat saya, hendak pulang kehadirat Engkau, saya hendak menuruti orang-orang yang dahulu dari saya, orang-orang yang bertali hidup dengan saya. "Ya Rabbi Engkau yang maha kuasa, kepada Engkaulah kami sekalian akan kembali" Setelah itu suaranya tidak terdengar lagi, mukanya jernih dan damai, cahaya keredaan Ilahi. Bibirnya tersenyum ...dan sampailah waktunya. Lepas dia dari tanggapan dunia dengan izin Tuhannya. Di bawah lindungan Ka'bah. Akhirnya dua muda mudi itu meninggalkan dunia sebelum bertemu untuk mempersatukan cinta mereka.
Link Download: pdf, txt
Read more »

Senin, 08 November 2010

Ayat-Ayat Cinta (Novel)

Judul: Ayat Ayat Cinta
ISBN: 979-3604-02-6
Penulis: Habiburrahman El Shirazy
Penerbit: Republika
Terbit: Desember 2004
Isi: 419 halaman

Bila buku/novel yang bertema agama biasanya terkesan kaku dan menggurui, cobalah nikmati novel "Ayat Ayat Cinta" ini, Anda akan terkejut karena Anda tidak akan mampu melepas buku ini dari genggaman Anda. Ceritanya begitu menyentuh dan mengalir seakan kita menjadi tokoh yang mengalami berbagai problema yang melilit sang tokoh. Dilatarbelakangi kota Cairo yang megah dan modern, Fahri, sang tokoh mengajak kita mendalami Islam dengan bahasanya yang menyejukkan dan mampu mengubah paradigma kita bahwa Islam janganlah dilihat dari orang atau negara Islamnya, tetapi lihatlah Islam dari ajarannya. Diselingi oleh kisah-kisah hubungan antar manusia yang digambarkan secara menarik dan utuh tanpa harus terasa vulgar.
Link Download Versi: jar,  PDF 


Read more »