Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Maret 2012

Cerita Cinta Tentang Ayah Kita

Cerita Tentang Cinta Seorang Ayah

Dan sampai pada saat seorang belahan jiwamu datang ke rumah dan meminta izin pada Ayah untuk mengambilmu darinya.
Ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Ayah tahu…..
Bahwa lelaki atau wanita itulah yang akan menggantikan posisinya dan perhatiannya nanti.

Dan akhirnya….
Saat Ayah melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang yang mengasihimu, Ayah pun tersenyum bahagia….
Apakah kamu mengetahui?

Di hari yang bahagia itu Ayah pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis…
Ayah menangis karena Ayah sangat berbahagia, kemudian Ayah berdoa….
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Ayah berkata: “Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik….
sikecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi seseoarang yang luar biasa….
Bahagiakanlah ia bersama pasangannya…”

Setelah itu Ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih….
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya….
Ayah telah menyelesaikan tugasnya….
Ayah, Bapak,Papa atau Abah kita…
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat…
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…

Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal…

Dan sungguh aku akan sangat merasa berbahagia,jika seandainya saat ini Ayah masih ada disini untuk menemani…
Cerita Cinta Tentang Ayah kita..

Sumber
Read more »

Kamis, 29 September 2011

Kisah Inspirasi "SEMANGKUK BAKMI PANAS"

Pada malam itu Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan
di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa
uang.

Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tidak mempunyai uang.

Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan
kedainya, lalu berkata,
"Nona,apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?"
"Ya, tetapi, aku tidak membawa uang." jawab Ana dengan malu-malu
"Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu. " jawab si pemilik kedai,
"Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu".
Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi.
Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.
" Ada apa,nona?" tanya si pemilik kedai.
"Tidak apa-apa. Aku hanya terharu..” jawab Ana sambil mengeringkan
air matanya.
"Bahkan seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi!,
tetapi, ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku,mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah. Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan
dengan ibu kandungku sendiri." katanya kepada pemilik kedai.

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik
nafas panjang dan berkata "Nona mengapa kau berpikir seperti
itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk
bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih
kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya."

Ana terhenyak mendengar hal tersebut.
"Mengapa aku tidak berpikir tentang hal tersebut? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak
memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.”

Ana segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yang harus diucapkan kepada ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah:
"Ana, kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan
makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tidak memakannya sekarang".

Pada saat itu Ana tidak dapat menahan tangisnya dan ia menangis di hadapan ibunya.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang
lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan
kepada kita.
Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga),
khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima
kasih kepada mereka seumur hidup kita.

RENUNGAN:
BAGAIMANA PUN KITA TIDAK BOLEH MELUPAKAN JASA ORANG TUA KITA.
SERINGKALI KITA MENGANGGAP PENGORBANAN MEREKA MERUPAKAN
SUATU PROSES ALAMI YANG BIASA SAJA, TETAPI KASIH DAN KEPEDULIAN ORANGTUA KITA ADALAH HADIAH PALING BERHARGA YANG DIBERIKAN KEPADA KITA SEJAK KITA LAHIR.
PIKIRKANLAH HAL ITU…
APAKAH KITA MAU MENGHARGAI PENGORBANAN TANPA SYARAT DARI ORANG TUA KITA?
Read more »

Jumat, 09 September 2011

Sayyid Quthb

Perjalanan ke Amerika: “Dibuang Dari Mesir” 

“Walaupun demikian, di Mesir telah tersusun sebuah panitia yang terdiri daru guru-guru besar hukum Islam di Universitas, sebagian pemuka Al Azhar, beberapa orang Pasha, untuk mempelajari masalah solidaritas sosial dalam Islam, terutama masalah zakat. Bukan untuk mencari keridhaan Allah, bukan untuk kepentingan tanah air, tetapi untuk mencari keridhaan orang-orang Amerika, dan untuk Pusat Studi Kemasyarakatan.” (Sayyid Quthb, Islam Amerika)

Dalam beberapa buku yang beredar mengenai Sayyid Quthb, baik itu yang ditulis oleh Sayyid Quthb sendiri maupun orang lain, kita bisa membagi tiga fase kehidupan mengenai pribadi beliau. Pertama, saat Sayyid Quthb menjadi akademisi di Mesir. Kedua, ketika menjadi peneliti di Amerika. Dan ketiga, saat Asy Syahid terlibat dalam Revolusi Mesir hingga akhirnya di hukum mati.

Dari sekian tiga fase tersebut, adalah menarik jika kita mengupas mengenai pribadi Sayyid Quthb saat berada di Amerika. Karena Sayyid Quthb kerap sekali memakai nama Amerika dalam menafsirkan ayat-ayat Qur’an.

Menurut DR. Abdul Sholah Fatah Al Kholidi dalam bukunya Amarieeka Minaddaghili, dikatakan bahwa Sayyid Quthb mengambil model Amerika sebagai contoh konkret sebuah peradaban yang mendasarkan dirinya dari nilai kebendaan, kejahilan, dan kekufuran serta Kebobrokan. Beliau menjelaskan ayat-ayat yang tepat mengenai hal itu dan lurusnya pengertian yang dapat diambil darinya dalam kitab tafsir fenomenalnya, yaitu Fii Dzhilalil Qur’an.

Selain itu, ketika kita mencoba menelisik kisah Sayyid Quthb di Amerika, kita akan terhantar mengenai kajian historis tentang fakta-fakta Peradaban Barat era 50-an yang disajikan Sayyid Quthb dengan representasi Amerika. Kita juga akan melihat alasan mendasar apa yang mengantarkan Sayyid turun dari dunia akademisi ke wilayah pergerakan, dari kultur KeIslaman “Kampus” menuju seorang ahlut tauhid.

Analisa-analisa Sayyid Quthb tentang Amerika bisa kita temui dalam banyak karya-karya beliau. Setidaknya hal itu tersebar di berbagai tulisan Sayyid Seperti Ma’rakatul Islam war Ras’sumaaliyah (Peperangan Islam dengan Kapitalisme). As-Salamul Aa’lami wal Islam (Kedamaian dunia dan Islam), Dirasat Islamiyah (Beberapa Studi Tentang Islam), Al Islam wa Musykilatul Hadharah (Islam dan Problematika Budaya), serta Ma’alim fiththariqh (Petunjuk Jalan).

Sayyid Quthb pertama kali menginjakkan kaki di Amerika pada tahun 1949. Ia berada di negeri Paman Sam tersebut selama kurang lebih 2,5 tahun. Sebenarnya alasan Sayyid Quthb terbang ke Amerika bukanlah didasarkan atas keinginan pribadinya, namun atas perintah Departemen Pendidikan dan Pengajar Mesir-tempat beliau bekerja- yang melihat kekritisan Sayyid Quthb atas pendidikan Sekuler yang dirasa meresahkan.

Sayyid Quthb memang sebelumnya pernah menjadi penilik di Departemen Pendidikan Mesir –namun beliau memutuskan keluar karena ketidakcocokkan atas sistem Sekular yang berlaku di Departemen tersebut. Oleh karena itu kalangan yang menilai Sayyid Quthb seorang yang sekuler sebelum masuk Ikhwan menjadi gugur dengan sendirinya. Lebih-lebih yang mengatakan Sayyid Quthb liberal.

Karena sebelum masuk ke Ikhwan pun, pada tahun 1945 Sayyid Quthb sudah menulis dua buku Islam seperti Tashwirul Fanni Al Qur’an dan Masyahid al Qiyamat fi al Qur’an. Dalam kedua bukunya ini, Sayyid mengatakan bahwa al Qur’an memiliki bahasa dan susunan yang sangat Indah yang membuktkan bahwa dia bukanlah ciptaan manusia. Bahkan dalam al ‘Adalat al Ijtima’iyyat di Al Islam yang terbit pada tahun 1948, dia menegaskan bahwa keadilan yang menjadi cita-cita umat Islam tidak akan mungkin terwujud kecuali harus dengan Islam.

Al Kholidi dalam bukunya Amarieeka Minaddaghili, memberikan fakta bagaimana karakter Sayyid saat menjadi penilik di Departemen Pendidikan dan Pengajaran Mesir. Al Kholidi menyatakan bahwa Sayyid tergolong pegawai yang tidak patuh dan loyal terhadap kebijakan di Departemen. Ia tidak mau mendekatkan diri dan tidak mau menjadi pegawai yang ditutup ruang kebebasannya dalam melakukan sesuatu. Meski terjadi pergantian kepemimpinan di tubuh Departemen, Sayyid pun tidak mengurangi daya kritisnya. Tidak jarang beliau dipojokkan dan diberondong berbagai ancaman oleh rekan-rekan sejawatnya di Departemen.
Dengan begini, kita bisa menyimpulkan bahwa persoalannya bukan pada person to person atau pimpinan di sebuah lembaga, tapi masalahnya ada di sistem. Maka itu salah lah jika kita berpandangan bahwa merubah sesuatu dapat dimulai ketika kita bisa meraih suatu jabatan dengan mengganti orangnya tanpa dibarengi dengan perubahan sistem yang mendasar, yakni Sistem Islam. Oleh karena itu, Sayyid pernah menulis sebuah artikel dalam  bukunya Dirasah Islamiyah, yang berjudul: “Ambil Islam Seluruhnya Atau Tinggalkan Sama Sekali”.

Inilah yang menyebabkan kenapa pihak pemerintah kewalahan melayani kekritisan Sayyid Quthb dan mengambil jalan tengah untuk mengirim Sayyid ke Amerika. Mereka berfikir apapun caranya mereka harus aman dari “kerewelan” Sayyid yang tidak henti-hentinya mengritik kebijakan Departemen. Jadilah, status Sayyid Quthb selama di Amerika adalah utusan kebudayaan Mesir untuk mempelajari Sistem Pendidikan di Amerika.

Ketika di Amerika, Sayyid Quthb dibebani tugas untuk mengadakan studi perbandingan mengenai kurikulum, program pendidikan, serta metode pengajaran. Dalam melaksanakan itu semua, Sayyid tidak terikat pada satu universitas tertentu atau satu materi kajian tertentu. Jadi beliau diutus ke Amerika tanpa batas waktu. Pihak mesir tampaknya sengaja melakukan ini karena mereka berfikir bagaimana caranya agar Sayyid tetap tinggal di Amerika dan tidak pulang balik ke Mesir.

Setelah Sayyid mendapat program pengajaran secara khusus dalam bidang bahasa Inggris yang belum pernah ia dapatkan selama di Darul Ulum, segera beliau mengadakan peninjauan ke lapangan untuk mengkaji kurikulum pada berbagai universitas diantaranya New York, Griley, Denver, dan San Fransisco.

Namun sepanjang perjalanan Sayyid ke Amerika, disinilah ketegaran seorang Sayyid diuji. Ia senantiasa mengharap ridho Allah atas berbagai cobaan yang menghadang. Ia sadar telah dibuang dari Mesir, namun Sayyid tetap tegar dan tak putus dari bertakwa kepada Allah, asal Islam tidak pernah pergi dari kehidupannya.

Ya komitmen itu kemudian betul-betul dibuktikan Sayyid saat menumpang kapal menuju Amerika dimana seorang pelacur dan pendeta menjadi dua fitnah yang akan dihadapinya. Allahua'lam.
Read more »

Senin, 20 Juni 2011

Ustad Abu Bakar Ba'asyir : Orang Tua Yang Tidak Kenal Kata Pensiun (2-Habis)

Perjalanan dakwahnya kemudian berlanjut dengan mendirikan radio dakwah yang di namai radio ABC (Al-Irsyad Broadcasting Center) di gedung Al Irsyad Solo yang hingga kini masih berdiri. Ikut aktif bersama beliau adalah Ustadz Abdullah Sungkar rahimahullah, Ustadz Abdullah Thufail rahimahullah, dan Ustadz Hasan Basri rahimahullah.

Karena terjadi perselisihan faham dengan beberapa pengurus Al-Irsyad terkait acara radio tersebut, maka beliau keluar bersama beberapa pengurus radio ABC dan mendirikan Radio Dakwah Islamiah Surakarta (Radis) yang padat dengan muatan dakwah yang tegas dan menghindari lagu-lagu maksiat. Radis didirikan di komplek masjid Al Mukmin lama yang akhirnya ditutup oleh rezim Orba karena dianggap menentang pemerintah.

Tak cukup hanya dakwah lewat frekuensi udara, beliau mendirikan madrasah diniyah (semacam lembaga non formal yang mengajarkan pendidikan agama Islam yang biasanya diselenggarakan pada sore hari) di komplek masjid Al Mukmin Gading Wetan (saat ini menjadi SMU Islam 1 Surakarta, bukan SMU Al-Islam 1 Surakarta). Pada mulanya, madrasah yang hanya masuk sore hari ini memberikan pendidikan Bahasa Arab dan materi syariat Islam. Selanjutnya, melalui madrasah diniyah inilah, cikal bakal Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki kemudian berdiri hingga sekarang.

Melihat pekembangan madrasah yang pesat dan di dorong oleh amanah yang diamanatkan oleh KH. Zarkasyi (Pendiri Pondok Pesantren Darussalam Gontor), Abu Bakar Ba’asyir berinisiatif mengembangkan madrasah diniyah menjadi pondok pesantren yang saat itu bertempat di Gading Kidul-Surakarta menempati area yang sempit.

Barulah setelah 2 tahun kemudian, Pondok Pesantren Al Mukmin dipindahkan ke tanah yang lebih luas di desa Ngruki yang dibeli dari salah seorang tokoh agama di solo. Desa Ngruki sendiri saat itu masih ”dikuasai” oleh kalangan komunis yang masih cukup kental.

Bersama almarhum Ustadz Abdullah Sungkar, almarhum Ustadz Hasan Basri, almarhum Abdullah Baraja' , almarhum Ustadz Yoyok Raswadi, dan ustadz Abdul Qahar Haji Daeng Matase. Ustadz Abu Bakar Ba'asyir terus membangun dan mengembangkan pendidikan di pesantern Al-mukmin. Pendukung utama berdirinya pondok pesantren tersebut adalah anggota pengajian-pengajian yang diasuh oleh tokoh-tokoh pendiri, terutama anggota pengajian kuliah zuhur di Masjid Agung Surakarta. Alhamdulillah, hingga sampai saat ini kegiatan pengajian tersebut masih berjalan.

Sejak awal, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dan teman-temannya mempunyai karakter yang tak enggan menyampaikan kebenaran dimanapun dan apapun keadaan yang harus di hadapinya walaupun harus berhadapan dengan penguasa. Hal inilah yang kemudian membuat pemerintah menjadi gerah.

Karena materi yang disampaikan dianggap menentang rezim saat itu, akhirnya Ustadz Abdullah Sungkar, Ustadz Hasan Basri, dan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir sendiri dipenjara selama 4 tahun tanpa alasan yang jelas hingga akhirnya Ustadz Abdullah Sungkar dan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir kembali divonis hukuman 9 tahun penjara.

Tidak terima dengan keputusan hakim, maka beliau berdua mengajukan banding, hingga diturunkan menjadi 4 tahun sesuai dengan masa tahanan yang sudah dijalani. Tak puas dengan hasilnya, jaksa agung mengajukan kasasi ke MA.

Dua orang ustadz ini seringkali disebut oleh sebagian kalangan sebagai dwi tunggal. Jika orang nasionalis punya Soekarno-Hatta, maka orang-orang pergerakan Islam memiliki Abdullah Sungkar-Abu Bakar Ba’asyir. Setelah bebas, sembari menunggu hasil kasasi, Ustadz Abu Bakar Ba'asyir bersama Ustadz Abdullah Sungkar rahimahullah, tetap melanjutkan aktivitas pendidikan dan dakwah mereka sepertimana semula.

Hal ini menjadikan rezim Orba menekan MA untuk menaikkan masa hukuman menjadi 9 tahun agar menjadi alasan bagi penangkapan mereka kembali. Ketika panggilan dari pengadilan Sukoharjo untuk mendengarkan keputusan pengadilan datang, sang dwitunggal memahami benar maksud dan tujuan licik pemerintah.

Maka setelah berkonsultasi dengan beberapa ulama, mereka berdua memutuskan untuk tidak menghadiri undangan pengadilan tersebut karena hal tersebut adalah dosa. Hingga tidak ada pilihan lain bagi mereka kecuali berhijrah atau tetap di rumah hingga ditangkap oleh polisi. Bagi keduanya, hal demikian adalah lebih mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada datang menyerahkan diri kepada thaghut.

Nampaknya pilihan hijrah-lah yang dipilih, karena jalan ini adalah yang paling baik dari kedua pilihan itu. Berkat pertolongan Allah melalui Pak Muhammad Natsir, mantan Ketua Umum Masyumi dan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, mereka berdua berhasil berhijrah ke Malaysia dan menetap di sana. Kemudian, keberadaan mereka disusul oleh keluarga yang kemudian juga turut menetap di sana selama 15 tahun. Selama masa hijrah, beliau tetap bekerja dan berdakwah seperti semula.

Tahun 1998, Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak meruntuhkan kekuasaan orde baru yang zalim. Kemudian, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir memutuskan kembali ke Indonesia bersama Ustadz Abdullah Sungkar pada tahun 1999. Namun tak berselang lama, tepatnya pada tahun 2000 M, Ustadz Abdullah Sungkar wafat. Kemudian, Ustadz Abu Bakar Ba'asyir memutuskan kembali ke ponpes Al Mukmin Ngruki meneruskan pendidikan dan dakwah untuk menegakkan cita-cita demi tegaknya syariat Islam di Indonesia.

Dalam rangka mengembangkan dakwah, Ustadz Abu Bakar Ba'asyir mengikuti kongres umat Islam yang digagas oleh beberpa aktivis dakwah di Yogyakarta, dimana pada kongres tersebut, umat Islam sepakat membuat sebuah wadah untuk kaum muslimin bersatu demi menegakkan kalimah Allah di bumi Indonesia, hingga terbentuklah Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Hasil kongres memutuskan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir diangkat menjadi Amir Ahlul Halli Wal Aqdi MMI atau juga di sebut sebagai Amir MMI.

Tahun 2003, beliau ditangkap lagi oleh pemerintahan Megawati karena dituduh terlibat kegiatan terorisme yang membuatnya divonis 1,5 tahun walaupun tanpa bukti. Anehnya vonis itu di jatuhkan bukan karena keterlibatan dengan terorisme seperti yang selama ini di tuduhkan kepadanya, alias mengalami kriminalisasi.

Arah tuduhan di persidangan berbelok dari urusan terorisme kepada tuduhan makar dan pemalsuan KTP, walau saksi-saksi di persidangan dari kalangan pejabat pemerintah daerah Sukoharjo sendiri menyatakan bahwa tidak ada kejanggalan apapun pada proses pembuatan KTP Ustadz Abu Bakar Ba’asyir.

Tahun 2004, setelah keluar dari pintu penjara salemba, beliau langsung dicegat oleh polisi untuk dijebloskan kembali ke penjara. Lagi-lagi karena tuduhan yang sama. Dia dianggap terlibat kasus bom hotel Marriot.

Padahal, saat kejadian Bom Mariott berlangsung, beliau sendiri sedang mendekam di penjara Salemba sejak 1.5 th sebelumnya. Hingga pada saat pemerintahan SBY, Ustadz Abu Bakar Ba'asyir tetap harus tinggal di penjara hingga 30 bulan karena tekanan pihak asing hingga bulan Juni 2006. Baru Kemudian beliau
merasakan kebebasan.

Selanjutnya, aktivitas dakwahnya masih beliau lanjutkan dengan berkeliling ke seluruh Indonesia untuk mensosialisasikan penegakan Syariat Islam di Indonesia. Tak hanya kalangan ulama yang ia datangi, tak kurang dari pemukiman penduduk, perumahan, perkantoran, majelis-majelis taklim, masjid, mushola, pejabat, dan birokrat serta penjara ia datangi bersama beberapa aktivis Islam baik dari Majelis Mujahidin Indonesia maupun yang elemen Islam lainnya.

Kesibukannya berdakwah selepas dari penjara hampir tidak menyisakan waktu di rumah untuk bercengkerama dengan keluarganya, anak-anak, serta cucunya selayaknya orang-orang tua yang telah menikmati masa pensiun. (pz/risalahjihad/JAT)
Read more »

Kamis, 16 Juni 2011

Ustadz Abu Bakar Ba'asyir: Menjadi Yatim Saat Umur 7 Tahun

 Menjadi Yatim Saat Umur 7 Tahun

Menjelang vonis bagi Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, media nasional kian marak membicarakan pribadi beliau. Namun ditengah pemberitaan itu, sosok Ustadz Abu digambarkan sangat menyeramkan. Situasi itu semakin parah dengan nuansa penuh pengawasan tiap kali Ustadz Abu Bakar Ba'asyir mendatangi persidangan.
Sebutan teroris pun kian akrab kita dengar selama proses persidangan. Padahal ditengah itu semua, sosok Ustadz Abu adalah pribadi yang tegar, sederhana, lurus, bahkan sangat lemah lembut.
Sedari kecil Ustadz Abu sudah hidup mandiri. Keterbatasan kedua orang tuanya dalam segi ekonomi dan fisik, tidak menghalanginya untuk tetap tegar di jalan Allah dan memacu diri menuntut ilmu sebagai insan bertauhid. Ya meski harus bersepeda sejauh 26 KM.

Lahir di Desa Pekunden, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang Jawa Timur, sebuah desa di pingiran Kabupaten Jombang-Jawa Timur. Kelahirannya di Jombang disambut sayup-sayup senandung takbir yang terdengar di sudut-sudut desa yang didengungkan anak-anak melalui surau-surau tua di sekitar rumahnya.
Senandung takbir perayaan peringatan keteladanan pengorbanan Bapak Tauhid, Ibrahim ‘alaihissalam yang hendak menyembelih putranya. Ia terlahir pada tanggal 12 Dzulhijjah 1359, dua hari setelah Hari Raya Idul Adha.

Gemuruh takbir yang menggetarkan hati beriringan dengan gemuruh bangsa Indonesia yang sedang memperjuangkan kemerdekaannya untuk keluar dari penjajahan tentara kafir Belanda dalam suasana serba kekurangan dan keprihatinan.
Tanggal kelahirannya bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1938. Raut muka syukur dan linangan air mata syukur kedua orang tuanya mengiringi kelahiran sosok Abu Bakar Ba’asyir yang diharapkan meneladani pengorbanan Ibrahim dan semangat patriotisme seorang pejuang dalam mempertahankan prinsip kebenaran dan keislaman. Ia terlahir bersama tiga saudara laki-laki dan tiga saudara perempuan.
Orang tua Abu Bakar Ba’asyir bukanlah seorang yang kaya raya umumnya kebanyakan warga masyarakat keturunan Arab lainnya. Namun, kecintaan terhadap Islam dan ketundukan orang tuanya pada Allah-lah yang menjadikan Abu bakar kecil ini mampu bertahan. Darah keturunan Hadramaut Yaman mengalir deras dalam dirinya. Ayahnya bernama Abud bin Ahmad dari keluarga Bamu'alim Ba'asyir yang membuat Abu Bakar menyandang marga Ba’asyir di belakang nama aslinya.

Kenangan indah bersama sang ayah tak banyak ia rasakan dan ia nikmati. Saat usia 7 tahun, ayahnya harus meninggalkan tawa riang Abu Bakar kecil menuju keharibaan Ilahi. Ayahnya meninggal dunia. Ia menjadi yatim di tengah kehidupan bangsa Indonesia yang masih kacau meskipun telah memperoleh kemerdekaannya.
Di tengah carut marutnya kehidupan bangsa Indonesia, ibunya yang masih buta huruf latin aksara Indonesia mengasuh sendiri Abu Bakar kecil. Ibunya bernama Halimah yang lahir di Indonesia walaupun masih juga berketurunan Yaman dari keluarga Bazargan.

Demi melanjutkan amanat agama dan suaminya, sang Bunda terus menanamkan nilai-nilai keislaman demi kebahagiaan sang putra kelak. Ibundanya yang pandai membaca al-Quran dan seorang muslimah taat beragama selalu mendampingi pendidikan agama sang anak di rumah meskipun Abu Bakar kecil juga tak pernah absen menghadiri pendidikan agama di mushalla kampung tempat tinggalnya.
Tak ingin membiarkan anaknya tertinggal dalam kebodohan, orang tuanya memasukkan Abu Bakar kecil untuk menempuh pendidikan pertamanya di sebuah Madrasah Ibtida’iyah (Sekolah Islam setingkat SD). Namun, dikarenakan situasi konflik revolusi bangsa Indonesia melawan Belanda pada saat itu, sekolahnya harus tertunda dan mengalami jeda. Baru kemudian setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, ia dipindahkan ke Sekolah Rakyat (Sekolah umum sederajat SD saat ini).

Selama menjadi siswa di madrasah, Abu Bakar kecil sempat ikut kegiatan gerakan Kepanduan Islam Indonesia (pada masa orde lama yang kemudian difusikan dalam Gerakan Pramuka). Untuk menutup kekurangan sang anak dalam ilmu agama, setiap malamnya, Abu Bakar kecil belajar mengaji dan ilmu agama di mushalla desa tempat tinggalnya. Selain kegiatannya di mushalla, sang bunda masih terus mendampingi langsung pendidikan Abu Bakar kecil di rumah.

Setelah lulus dari Sekolah Rakyat (SR), pendidikannya berlanjut ke jenjang sekolah menengah. Ia bersekolah di sebuah SMP Negeri di kota Jombang yang berjarak 13 Km dari rumah tempat tinggalnya. Setiap hari, perjalanan sejauh minimal 26 Km ia tempuh dengan sepeda.

Semasa SMP ini, Abu Bakar aktif mengikuti kegiatan berorganisasi dalam Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) ranting Mojoagung disamping masih menjadi anggota Gerakan Pramuka.

Menginjak masa remaja setelah merampungkan sekolah di SMP, ia melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMA. Saat itu, ia masuk SMA Negeri Surabaya. Kondisi perekonomian Indonesia yang sedang mengalami keterpurukan merata di seluruh lapisan masyarakat membuat pendidikannya di SMA hanya mampu bertahan selama 1 tahun. Kegiatan berorganisasinya pun juga terpaksa harus terhenti. Selanjutnya, ia memutuskan hijrah ke Solo untuk membantu kakaknya yang sedang mengembangkan sebuah perusahaan sarung tenun di Kota Solo.

Hingga pada tahun 1959 M, atas dorongan dan bantuan kedua kakaknya, Salim Ba'asyir dan Ahmad Ba'asyir, ia mendaftar sebagai santri di Pondok Pesantren Darussalam Gontor, sebuah Pondok Pesantren yang terbilang terbaik dan termaju di Indonesia.

Atas berkat rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia berhasil menjadi santri di pondok pesantren tersebut. Di sini, keaktifan berorganisasinya kembali tersalurkan dalam wadah Pelajar Islam Indonesia (PII) cabang Gontor. Impiannya melanjutkan pendidikan yang sempat terhenti membuatnya serasa melihat pelita di tengah buta kegelapan malam.

Empat tahun menjadi santri pondok pesantren Darussalam Gontor, dengan rahmat Allah, ia berhasil lulus dari kelas Mualimin pada tahun 1963 M. Semangatnya untuk menempuh pendidikan masih membara di benaknya sehingga (masih atas bantuan kakaknya), ia melanjutkan studinya di Universitas Al Irsyad jurusan Dakwah di kota Solo selama kurang lebih 3 tahun.

Selama menjadi mahasiswa, ia aktif dalam beberapa organisasi pemuda. Ia menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Solo. Di HMI, dia pernah mendapatkan amanah sebagai ketua Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI) -sebuah lembaga semi otonom HMI- cabang Solo di masa Ir. Imaduddin sebagai Ketua Umumnya.

Di organisasi Gerakan Pemuda Islam Indonesia, Abu Bakar Ba’syir pernah mendapatkan amanat dakwah sebagai Ketua pada tahun 1961. Selain itu, di dalam organisasi Pemuda Al Irsyad, ia menjadi sekretaris cabang Solo.

Menginjak usia dewasa, panggilan hati untuk menikah mengarahkannya untuk menyunting seorang muslimah bernama Aisyah binti Abdurrahman Baraja'. Sejak saat itu, keberadaan sang istri selalu menyertai perjuangan dakwahnya. Kesetiaan sang istri tak hanya dibuktikan dengan kata mutiara dan hiasan pujian semata. Namun, keberadaan sang istri, Aisyah Baraja’, dalam perjuangan dakwah terwujud dalam tindakan nyata dan fakta.
Dari rahim istrinya, keduanya memiliki tiga orang anak yang saat ini telah menikah dan masih hidup semuanya. Tiga anaknya terdiri atas 1 orang putri dan 2 orang putra. Mereka adalah Zulfah, Rosyid Ridho dan Abdul Rohim. Bersambung. (pz/triirawan/risalahjihad)
Read more »

Kamis, 10 Maret 2011

Hati Yang Gersang

Oleh : Achmad Siddik Thoha

Seorang lelaki tua mendapati cucunya yang berusia sepuluh tahun asyik bermain air di sungai dekat rumahnya. Sungai di kampung lelaki tua yang dipanggil Kakek itu masih terlihat jernih dan alirannya tenang. Setiap sore banyak orang-orang pergi ke sungai untuk mandi, bermain dan duduk-duduk di pinggir sungai.

Lima tahun berlalu. Cucu Kakek kini tak lagi berani main ke sungai. Dia hanya bisa melihat sungai dari kejauhan karena airnya sangat keruh dan alirannya sangat deras dan liar. Kakek merasa kasihan karena sungai tidak lagi menjadi sahabat bermain bagi cucunya dan teman-temannya.

“Cu, ikut Kakek, yuk!” Kakek mengamit lengan cucunya.
“Kemana, Kek?
“Ke sungai.” Kakek menunjuk tangannya ke arah sungai.

Cucu dan kakek berjalan perlahan menuju pinggiran sungai.

“Apa yang kau lihat dengan sungai ini sekarang, dibandingkan dengan lima tahun lalu, Cu?” Sang Kakek memulai dialog dengan cucunya.

“Dulu air sungai ini jernih, sekarang sangat keruh. Dulu alirannya tenang di musim hujan dan kemarau, sekarang sangat deras dan mengerikan saat hujan datang dan airnya surut ketika kemarau. .”

”Nah, sekarang kau lihatlah bukit itu. Apa pendapatmu?” Sang Kakek menunjuk sebuah bukit yang gundul, tempat hulu sungai.

”Dulu bukit itu hijau, Kek. Banyak pohon yang tumbuh disana. Kini hanya tanah gersang kecoklatan yang terlihat, Kek.”

”Apakah kamu mengira kalau bukit yang gundul itu penyebab berubahnya sungai ini hingga airnya keruh, arusnya deras kalau hujan dan kering bila kemarau?” Sang Kakek mencoba menguji pengetahuan cucunya.

”Betul kek, hutan di bukit itu sudah tidak ada sehingga sungai di kampung kita menjadi seperti ini.” Sang Cucu menjawab tanpa ragu

”Bukit itu laksana hati kita, cucuku dan sungai ini seperti perilaku kita sedangkan air huan adalah lingkungan kita. Ketika bukit itu terjaga kondisinya dengan hutannya yang lebat, maka tidak mungkin air sungai ini keruh, banjir dan kering. Hutan di bukit membuat air tak dapat menghempas tanah dengan keras dan tanah tidak mudah tergerus dan hanyut masuk ke sungai. Makanya air hujan yang banyak masih sanggup diredam oleh hutan di bukit ehingga air yang mengalir ke sungai menjadi jernih, tenang dan terus-menerus.” Sang Kakek melihat cucunya manggut-manggut mendengar penjelsannya.

”Lalu apa hubungannya dengan hati, Kek?” Sang Cucu sangat antusias mendengar penjelasan filosofis kakeknya

”Sama dengan bukit itu, Cu. Bila hati kita gersang dan tak ada pelindung, maka hempasan godaan dari lingkungan akan membuat hati kita goyah dan tidak tenang. Hati yang gelisah akan terlihat pada perilakunya yang kotor dan tidak terkontrol. Sebaliknya, hati yang subur dan terlindungi, akan bisa meredam godaan lingkungan dan perilakunya akan tetap terjaga dan bersih.”

”Apa yang harus dilakukan agar perilaku kita tetap jernih dan tenang, kek?”

”Agar sungai ini airnya lebih jernih dan arusnya lebih tenang, maka biasanya bukit-bukit yang gundul itu ditanami kembali dengan pepohonan. Pepohonan yang ditanam juga harus dirawat dengan baik sehingga tumbuh subur dan akhirnya dapat berfungsi meresapkan air dan melindungi tanah agar tak tergerus air hujan. Nah, sama seperti hati kita, bila hati kita terasa gersang, tanamilah segera dengan pohon kebaikan dengan cara banyak mengingat-Nya, banyak memberi, menghilangkan kebencian dan banyak bersyukur. Lalu pelihara pohon kebaikanmu itu dari perusak-perusak hati dengan membersihkan hati dari iri dan dengki, menjauhi menggunjing dan banyak berbagi pada sesama. Mudah-mudahan itu akan menjadikan perilakumu menjadi lebih baik dan terjaga dari keburukan.”

”Bagaimana, cu? Kamu masih berminat main di sungai ini? Kakek mencoba mengalihkan pandangan cucunya yang sedari tadi memaandangi bukit gundul.

“Siap, Kek. Tapi harus menunggu bukit itu hijau kembali, kan Kek?

“Hehehe, kalau begitu, kita ajak orang-orang menanami bukit itu, yuk!

“Nah itu baru nyata kek, tidak berwacana saja, hehehe.”

“Ah, kamu bisa saja.” Sang kakek menggandeng tangan cucunya.

Angin dingin mulai mnyergap mereka. Matahari sore mulai meredupkan cahanya. Mereka berjalan perlahan menuju rumahnya, bersiap memenuhi panggilan suara merdu nan mulia untuk menyuburkan hatinya di senja hari.

Silahkan komentar di http://on.fb.me/hati_keruh
Read more »

Senin, 31 Januari 2011

Pikir Ulang Lagi Ketika Menabung!!

Pernah dengar lagu menabung kan?

Bing beng bang yuk kita ke bank.
Bang bing bung yuk kita nabung
Tang ting Tung hei, jangan dihitung
Tiap bulan tahu-tahu dapat untung

Lagu ini dibuat untuk merangsang anak-anak untuk gemar menabung. Tentu saja tidak ada yang salah dengan menabung, hanya saja jika menabung diindentikan dengan menyimpan uang di bank, pada kenyataannya saat ini tidak tepat lagi dikatakan akan beruntung.

Mendefinisikan ulang arti kata beruntung
Banyak yang menganggap untung berarti kita mendapatkan uang lebih.
Misalnya Anda menabung Rp 1.500.000 lalu tahun depan jadi Rp1.530.000 maka kita mendapat untung sebesar Rp 30.000.
Apakah benar demikian? Mari kita hitung secara bijak.
Kalau misalnya, dengan uang Rp 1.500.000 ini sekarang kita bisa beli beras 10 karung,
lalu tahun depan dengan Rp 1.530.000 kita hanya bisa beli 8 karung beras yang sama,
artinya kita untung atau rugi? Artinya kita rugi 2 karung beras.
Nah kesalahan umum kita adalah mengira mendapat untung karena nilai nominal
(nilai hitungan kita bertambah), padahal keuntungan harusnya dihitung dari daya belinya.
Setiap tahun terjadi inflasi (penurunan nilai uang) rata-rata 10% sedangkan
bunga bank pertahun rata-rata 5 persen, artinya kalau kita menabung di bank setiap tahun sebenarnya daya beli kita turun 5% sekalipun nominalnya naik 5%. Berarti kita rugi karena
daya beli uang kita merosot setiap tahun kalau ditabung dalam bentuk uang.

Uang kita bisa hilang kalau ditabung
Kalau fakta di atas cukup menyakitkan, fakta berikut ini lebih menyakitkan lagi.
Tidak hanya nilai uang kita berkurang, pada nilai tertentu uang kita yang ditabung di bank bahkan bisa hilang dalam arti sesungguhnya.
Setelah krisis moneter 1998, bank-bank di negeri ini menambah pundi penghasilan utamanya dari fee based income (biaya administrasi).
Dulu bank mengandalkan penghasilan dari bunga atas kredit (pinjaman) yang mereka berikan, kini selain penghasilan dari bunga kredit, bank memaksimalkan pendapatan dari pengelolaan rekening, serta jasa transfer yang bisa dikutip langsung dari nasabah.
Pada saldo tertentu, tabungan kita di bank tidak menghasilkan apa-apa. Bagi hasilnya nol.
Saat ini, pada banyak bank, jika saldo dibawah Rp 1 juta maka bunganya nol. Artinya jika kita menyimpan Rp 500 ribu di bank, lalu kita diamkan, maka 4 tahun ke depan uang kita akan menjadi nol. Kenapa? Karena tiap bulan kita dikenakan biaya administrasi Rp 10.000/ bulan dan tidak ada bunga. Jadi sudah tidak tepat lagi kalau dikatakan menabung di bank menguntungkan.

Rubah paradigma kita terhadap konsep menabung dan untung
Untuk keselamatan masa depan kita dan anak-anak kita, kita harus mengubah konsep tentang menabung dan beruntung.
Pertama, menabung harus untung dalam arti hakiki (daya beli meningkat)
Kedua, menabung tidak harus uang.
Ketiga, menabung tidak harus di bank.
Lalu bagaimana konsep menabung yang aman dan menguntungkan?


Solusi finansial dari Islam
Sebagaimana konsep Islam sendiri Rahmatan lil alamin (kesejahteraan bagi sekalian alam - umat manusia dan alam semesta), maka Islam juga menawarkan konsep menabung yang memenuhi seluruh kriteria di atas.
Jawabannya adalah dinar emas.
Sejarah membuktikan sejak jaman Rasulullah (abad 7) sampai sekarang (abad 21) satu dinar cukup untuk membeli kambing.
Sekarang bandingkan jika kita menabung dengan dinar emas.
Setiap tahun emas naik rata-rata 20%, jadi kalau misalnya uang Rp 1.500.000 tersebut tidak kita tabung ke bank tapi kita memilih untuk membeli 1 dinar emas senilai Rp 1.500.000 maka besar kemungkinan tahun depan harga 1 dinar emas akan bernilai Rp 1.800.000 dan mempunyai daya beli yang sama atau bahkan lebih tinggi dari tahun sebelumnya.
Bahkan dari data statistik terbukti, biaya biaya pergi haji terus menurun dengan hitungan dinar, bila tahun 2000 ONH biasa setara 70 dinar; tahun 2009 setara 20 dinar; maka dalam lima - enam tahun kedepan (2015) ONH biasa dapat diprediksikan berdasarkan statistik hanya akan memerlukan 10 dinar saja.
Nah kembali pada pertanyaan pertama,
Anda mau mencari uang atau mencari untung?
Anda ingin mendapat nominal pada uang kertas yang terlihat sedikit lebih banyak atau
1 dinar yang terlihat nominalnya sama tapi daya belinya semakin lama semakin tinggi?
Jika anda punya kebijakan finansisial Anda tentu tahu jawabannya. sumber
Read more »

Jumat, 10 Desember 2010

Mutiara Hikmah dari Pengungsi Merapi

Oleh : Embun Khatulistiwa

Bencana di negeri ini datang silih berganti seolah sengaja dipergilirkan untuk mengingatkan umat manusia bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi. Sekarang tak ada bedanya antara si kaya dan si miskin. Si kaya bukanlah siapa-siapa yang dapat memamerkan kekayaan dan kekuasaannya. Kekayaan bukanlah senjata untuk menawar takdir kepayahan agar tak mendekat.

Sebuah cerita hikmah dari barak pengungsian Maguwo Harjo. Ketika seorang ibu tua menceritakan apa yang dialaminya kepada saya dengan binar ketegaran yang berusaha dimunculkannya dalam raut bahagia..

Sebelum musibah Merapi melanda pemukiman tempat ia tinggal, keharmonisan keluarga adalah suatu hal yang jarang ia rasakan di hari-hari tuanya. Meski anaknya yang sudah berkeluarga masih tinggal bersama dalam satu rumah, tapi kebersamaan dan kehangatan layaknya keluarga tak ia rasakan. Hari-hari yang ia lalui adalah hari-hari hambar yang berjalan hanya untuk menunggu berakhirnya jatah waktu yang Tuhan berikan padaya. Hanya si keci,l cucunya yang masih berusia batita yang manemani kejenuhannya. Sementara itu, ayah dan ibu si kecil sibuk bekerja di tempat yang berbeda dan tak ada waktu untuk sekedar bermain dan meninabobokannya. Semua kerja keras dilakukan demi materi yang mereka yakini dapat memberikan kesejahteraan dalam hidup.

Waktu berjalan, pundi-pundipun makin penuh terisi hingga akhirnya pasangan suami istri itu memutuskan untuk membangun rumah sendiri tidak jauh dari rumah tempat dimana ibunya tinggal. Tepat di hari raya Idul Fitri 1431H lalu rumah tersebut selesai dibangun dengan sempurna, lengkap dengan ‘furniture’ rumah tangga yang serba baru. Tapi keberadaan rumah baru itu tidak merubah pola hidup mereka. Masing-masing masih sibuk dengan dunianya sendiri, mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk jaminan hidup layak.

Hingga akhirnya peristiwa letusan Merapi kedua yang di luar dugaan itu tiba. Mereka yang sebelumnya masuk dalam kawasan zona aman justru harus ikut dievakuasi pada tengah malam saat dimana raga-raga masih terlelap. Suasana sangat darurat, tak ada waktu lagi untuk sekedar mengemasi barang-barang berharga karena keselamatan nyawa lebih utama.

Tidak lebih dari 20 menit, kampung mereka yang sebenarnya tidak begitu dekat dengan bantaran sungai ikut merasakan terjangan awan panas yang seketika membumi hanguskan rumah dan harta benda termasuk puluhan unggas dan ternak-ternak yang tak sempat terselamatkan. Innalillahi wa inna Ilaihi Raji’un…

Saat ini,mereka harus menjadi bagian dari pengungsi di barak pengungsian Maguwo Harjo. Subhanallah, begitu besar hikmah yang DIA berikan dibalik setiap kejadian, ditengah musibah ini si ibu tua menemukan apa yang selama ini ia cari. Kehangatan keluarga dalam kebersamaan. Meski dalam keterbatasan, namun tak ada lagi sekat pembatas. Keluarga yang tadinya jarang dipertemukan meski tinggal satu atap karena kesibukan masing-masing dan jarang pula bersilaturrahmi dengan tetangga sekampung, kini menyadari betapa menjaga hubungan keluarga itu lebih dari segalanya dan hidup saling berdampingan itu adalah anugrah terindah. Tanpa sekat tembok tebal, tanpa beda si kaya dan si miskin, senasib sepenanggungan dan bersama-sama saling menyemangati untuk bangkit dari musibah.

Jika tak saling peduli saat lapang, maka DIA berikan kesempatan untuk peduli diwaktu sempit. Begitu banyak hikmah yang terserak dari setiap ujian yang DIA berikan, semoga kita menjadi bagian dari orang yang beruntung yang dapat memungutnya sebagai pelajaran agar lebih bijak dalam memaknai hidup.
Read more »

Selasa, 07 Desember 2010

Asal Mula Rumah Sakit dalam Sejarah Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Kemajuan bidang medis memicu perkembangan lebih jauh. Tak melulu karya dan pemikiran yang berserak. Namun, pada akhirnya muncul sebuah institusi berupa rumah sakit. Keberadaan rumah sakit selain berfungsi sebagai pusat pelayanan kesehatan juga menjadi sentra pengembangan ilmu medis.

Rumah sakit yang representatif paling awal dibangun di Baghdad, Irak pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Tepatnya, ketika Harun al-Rasyid (786809) menjadi khalifah. Rumah sakit dikenal dengan sebutan bimaristan atau maristan. Bangunan rumah sakit di Baghdad besar dan megah.

Rancang bangunnya menjadi acuan bagi rumah sakit lainnya yang baru didirikan di wilayah Islam. Gambaran mengenai rumah sakit di Baghdad disampaikan oleh sejarawan Muslim terkemuka al-Jubair. Ia mengunjungi Baghdad pada 1184 Masehi. Menurutnya, perlengkapan rumah sakit sangat memadai.

Bahkan ia mengungkapkan, kemegahannya tak kalah dengan istana khalifah. Kebutuhan air bersih di rumah sakit disalurkan langsung dari Sungai Tigris. Pada masa selanjutnya, umat Islam membangun sejumlah rumah sakit besar dan terintegrasi. Maksudnya, rumah sakit itu mampu memberi pelayanan pengobatan beragam jenis penyakit.

Selain itu, terdapat fasilitas rawat inap, ruang penyimpanan dan pelayanan obatobatan, tempat pendidikan bagi dokter dan tenaga medis, perpustakaan, bahkan menjadi pusat pengembangan ilmu serta praktik kedokteran. Sebagian besar rumah sakit Islam berkonsep modern sudah memiliki standar semacam ini.

Oleh karena itu, rancang bangun dan tata letak ruangan rumah sakit menjadi penting untuk dapat mengakomodasi seluruh fungsi tadi. Beberapa ruangan khusus melengkapi sarana yang ada. Hal itu diungkapkan dalam buku History of the Arabs. Si penulis buku, Philip K Hitti, menyebut rumah sakit Islam mempunyai ruangan khusus perempuan.

Berdiri pula gudang obat yang menyatu dengan bangunan rumah sakit. "Beberapa di antaranya dilengkapi perpustakaan kedokteran. Rumah sakit juga menawarkan kursus pengobatan," urai Hitti. Gambaran yang hampir sama tercantum dalam artikel berjudul "Islamic Culture and the Medical Arts" pada laman National Library of Medicine.

Artikel tersebut menggambarkan, rumah sakit yang didirikan umat Islam di Suriah maupun Mesir sepanjang abad ke-12 dan ke-13 juga memiliki setidaknya empat bangsal besar. Ruangan lain berukuran tidak terlampau luas, seperti ruang untuk dapur, gudang, apotek, tempat istirahat staf, dan perpustakaan.

Tiap bangsal biasanya dilengkapi pancuran air bersih untuk minum atau mandi. Rumah sakit menerapkan pemisahan bangsal pasien perempuan dan laki-laki. Juga bangsal untuk pasien berpenyakit menular dirawat di ruangan terpisah dari pasien lain. Selain itu, ada pula ruang khusus bagi pasien penyakit mata dan disentri.

Di sisi lain, ada area khusus yang digunakan sebagai ruangan operasi dan ruang perawatan pasien gangguan jiwa. Kamar mandi dengan pasokan air memadai tersedia pada beberapa bagian rumah sakit. Para pengelola rumah sakit sangat memerhatikan unsur kebersihan sehingga tidak membiarkan kamar mandi dalam keadaan kotor.

Sejumlah rumah sakit milik pemerintah memiliki laboratorium guna meracik beragam obat. Tak jarang, pusat farmasi ini sanggup memproduksi obat-obatan dalam skala besar. Sebagian besar obat diberikan untuk pasien rumah sakit dan sebagian lagi disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Prestasi mengagumkan ketika rumah sakit menjadi tempat pendidikan, tempat menempa mahasiswa kedokteran dan perawat, serta pengembangan kajian medis. Ada pula ruangan yang digunakan sebagai tempat belajar-mengajar. Tradisi itu mulai berlangsung pada masa Khalifah al-Ma'mun serta al-Mu'tashim, dan masih ada di era Seljuk dan Usmani.

Di Rumah Sakit Bursa yang berdiri di dekat istana Sultan Yildirim, dibuka sekolah kedokteran. Di rumah sakit itu, di samping ada ruang belajar, ada pula ruangan pengajar yang juga para dokter senior. Perpustakaan besar yang menyimpan bermacam naskah ilmiah medis turut melengkapi sarana pendidikan.

Rumah sakit lain yang membuka fasilitas pelatihan kedokteran yakni RS al-Nuri di Damaskus, Suriah dan RS Marakesh di Maroko. Ruangan yang sangat penting dan selalu ada di rumah sakit Islam adalah masjid atau tempat ibadah. Fasilitas tersebut memudahkan pasien dan pengunjung dalam menunaikan ibadah.

Tak heran, ruangannya cukup besar dan bisa menampung banyak jamaah. Selain itu, dalam artikel berjudul "The Beginning of the Islamic Hospitals" pada laman muslimheritage menuturkan, di sana dibangun pula gereja bagi pengunjung, pasien, maupun tenaga kesehatan yang beragama Nasrani.

Manajemen rumah sakit menyediakan ruang tunggu bagi pengunjung. Sarana penunjang lainnya adalah aula, klinik pasien rawat jalan dan penyakit ringan, juga dapur. Dan yang membanggakan, seluruh pelayanan dan sarana itu dapat dinikmati oleh pasien tanpa dipungut biaya sepeser pun. Ilmuwan Hossam Arafa dalam tulisan berjudul "Hospital in Islamic History" mengatakan, karakteristik rumah sakit Islam adalah melayani pasien tanpa memandang asal usul, etnis, suku, maupun agama. Semua berhak menerima perawatan medis tanpa perlu membayar biaya layanan rumah sakit.

Dana yang dibutuhkan untuk memberikan layanan pengobatan, perawatan, hingga biaya operasional rumah sakit sepenuhnya berasal dari dana wakaf. Umat Muslim dan penguasa mewakafkan sebagian harta mereka untuk kepentingan sosial dan agama. Pada masa itu, dana wakaf yang terkumpul cukup besar.

Dana wakaf tersebut lebih dari cukup untuk membiayai pembangunan serta operasional rumah sakit. Sebagian anggaran negara juga didistribusikan ke rumah sakit, terutama untuk pemeliharaan peralatan dan penyediaan obat-obatan. Karena itulah, rumah sakit bisa beroperasi secara maksimal dan mampu memberikan pelayanan terbaik bagi pasien. Konsep dan rancang bangun rumah sakit modern milik umat Muslim ini dijadikan model bagi rumah sakit-rumah sakit yang didirikan di Eropa beberapa abad kemudian.
Read more »

Selasa, 30 November 2010

Tradisi Diplomasi dalam Sejarah Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Jalan diplomasi sudah lama dibangun. Banyak cendekiawan yang dilibatkan dalam menjalin hubungan dengan bangsa dan peradaban lain. Pemerintahan Islam di abad pertengahan banyak mengirim diplomatnya, selain untuk menjaga pertemanan, juga untuk mewujudkan perdamaian.

Jere L Bacharach dalam bukunya Medieval Islamic Civilization, an Encyclopedia mengatakan, praktik diplomasi sudah menjadi bagian dari politik Islam sejak berabadabad silam. Sejarawan ini mencatat, terdapat dua karakteristik diplomasi yang dipraktikkan umat Islam.

Pertama, pada masa awal Islam, tujuan religius menjadi fokus. Diplomasi adalah untuk mengajak kaum di luar Islam untuk memeluk Islam, beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Sedangkan, karakteristik kedua, lebih bersifat politis. Pada masa pemerintahan Islam banyak ekspedisi dan perluasan wilayah.

Mereka harus berhubungan dengan banyak negara dan peradaban lain. Diplomasi dibutuhkan untuk memperkuat aliansi, pertukaran pengetahuan, perdagangan, dan perdamaian. Ibnu Batutta menjadi salah satu tokoh utusan yang mewarnai perkembangan diplomasi di dunia Islam.

Ia dikenal pula sebagai penjelajah terbesar bangsa Arab. Hampir separuh dunia pernah dikunjunginya. Ibnu Batutta melakukan ekspedisi pengembaraan hingga puluhan tahun lamanya. Nama lengkap tokoh asal Maroko itu adalah Syamsuddin Muhammad bin Abdullah alTanji. Namun, lebih dikenal dengan panggilan Ibnu Batutta.

Dirinya mengabdi pada pemerintahan Sultan Abu `Inan. Beberapa ekspedisi perjalanannya dicatat pada karya yang ditulis sarjana bernama Ibnu Jauzi. Selain menjadi pengembara, Ibnu Batutta juga ahli geografi yang cermat. Keistimewaan yang dimilikinya membuatnya diberi kepercayaan oleh Sultan Abu `Inan.

Sultan menunjuknya sebagai utusan Islam untuk Dinasti Yuan, penguasa negeri Cina. Ibnu Battuta menerima amanat tersebut dan berangkat ke wilayah timur jauh. Berkat pengetahuan yang luas dan kecakapannya dalam bernegosiasi, terjalin hubungan erat antara pemerintahan Islam dan Cina.

Selama berabad-abad hampir tak ada konflik yang muncul dalam hubungan kedua pemerintahan itu. Bahkan, terjadi transfer pengetahuan yang pesat. Kerja sama perdagangan kian meningkat. Selain Ibnu Batutta, muncul pula nama lainnya, yaitu Nadhir al-Harami.

Ia pemimpin rombongan utusan Khalifah al-Muqtadir ke kawasan Volga Bulgars. Sebuah negara yang terletak di Sungai Volga dan Kama, Rusia. Seluruh kisah perjalanan maupun langkah diplomasi alHarami terekam dalam buku berjudul Ar-Risalah karya Ibnu Fadhlan. Ia merupakan sekretaris rombongan.

Al-Harami sukses menjalankan titah khalifah. Sebelumnya, penguasa dan masyarakat Volga Bulgas bersedia mempelajari agama Islam. Utusan dari Volga tiba di Baghdad pada 920 Masehi. Mereka meminta kepada khalifah agar dikirimkan ahli-ahli agama untuk mengajar di sana.

Ada pula nama Abd el Ouahed bin Messaoud. Ia bekerja di pemerintahan saat Ahmad al-Mansur menjadi penguasa Maroko pada sekitar abad ke-16. Jabatannya adalah sekretaris kerajaan. Saat itu umat Islam di Maroko sedang menghadapi pertikaian dengan bangsa Spanyol.

Abd el-Ouahed lantas diutus menemui Ratu Elizabeth I dari Inggris. Tujuannya agar terjalin aliansi antara Maroko dan Inggris untuk bersama menghadapi kekuatan armada Spanyol. Jalan ini ditempuh karena sebelumnya kekuatan Inggris mampu mengalahkan armada Spanyol, yaitu pada 1588 Masehi.

Mereka lantas menguasai wilayah Cadiz. Pasukan Maroko menang atas Spanyol pada pertempuran Alcazar tahun 1578. Dua momen itu mengilhami Ahmad al-Mansur. Dia ingin dua kekuatan, Inggris dan Maroko, bersatu. Lantas dikirimlah diplomat terbaiknya, Abd el Ouahed yang tiba di Inggris pada 1600 Masehi.

Selama menjalankan misi diplomasinya, Abd el Ouahed didampingi Haji Messa dan Haji Bahanet. Pun seorang penerjemah bernama Abd el Dodar. Tujuan lain utusan ini adalah membuka jalur perdagangan antara kedua negara. Mereka bertemu Ratu pada 19 Agustus dan 10 September.

Rombongan itu menghabiskan waktu selama enam bulan di Inggris. Saat itu, Ratu belum memberikan jawaban atas tawaran kerja sama dalam menghadang Spanyol. Namun, ia menerima keinginan Maroko untuk menjalin perdagangan. Abd el Ouahed berusaha menjalankan tugas dengan sebaikbaiknya.

Ia membahas dengan perinci prinsip-prinsip kerja sama yang akan dijalankan kedua negara. Seperti besaran kompensasi dari masing-masing negara untuk memperkuat perniagaan. Demikian pula bantuan pembuatan kapal perang. Menurut Jere Bacharach, Abd el Oauahed menunjukkan dedikasi luar biasa.

Bacharach mengatakan, Abd el Oauahed memiliki karakter seorang diplomat sejati yaitu loyal, berpengetahuan luas, mahir berbicara, cermat, pantang menyerah, dan tegas. Menurut dia, pengiriman misi diplomatik semacam itu juga lazim dilakukan penguasa Islam di Spanyol maupun Palestina.

Praktik itu kian intensif karena kerap timbul gejolak di kawasan tersebut. Para diplomat dan utusan dengan keahlian hebat sangat dibutuhkan untuk meneruskan peradaban Islam yang gemilang.
Red: irf
Rep: yusuf ashiddiq
Read more »

Selasa, 23 November 2010

Odol Dari Surga

Cerita menggelikan ini kudengar ketika duduk dibangku SMA dulu. Cerita yang akhirnya tertulis begitu dalam di relung-relung hati. Cerita yang meskipun naif, namun bermakna sangat dalam.

Kisah nyata dari seseorang yang dalam episode hidupnya sempat ia lewati dalam penjara. Bermula dari hal yang sepele. Lelaki itu kehabisan odol dipenjara. Malam itu adalah malam terakhir bagi odol diatas sikat giginya. Tidak ada sedikitpun odol yang tersisa untuk esok hari. Dan ini jelas-jelas sangat menyebalkan. Istri yang telat berkunjung, anak-anak yang melupakannya dan diabaikan oleh para sahabat, muncul menjadi kambing hitam yang sangat menjengkelkan. Sekonyong-konyong lelaki itu merasa sendirian, bahkan lebih

dari itu : tidak berharga ! Tertutup bayangan hitam yang kian membesar dan menelan dirinya itu, tiba-tiba saja pikiran nakal dan iseng muncul. Bagaimana jika ia meminta odol pada TUHAN ?

Berdoa untuk sebuah kesembuhan sudah berkali-kali kita dengar mendapatkan jawaban dari-NYA . Meminta dibukakan jalan keluar dari setumpuk permasalahanpun bukan suatu yang asing bagi kita. Begitu pula dengan doa-doa kepada orang tua yang telah berpulang, terdengar sangat gagah untuk diucapkan. Tetapi meminta odol kepada Sang Pencipta jutaan bintang gemintang dan ribuan galaksi, tentunya harus dipikirkan berulang-ulang kali sebelum diutarakan. Sesuatu yang sepele dan mungkin tidak pada tempatnya. Tetapi apa daya, tidak punya odol untuk esok hari –entah sampai berapa hari-menjengkelkan hatinya amat sangat. Amat tidak penting bagi orang lain,tetapi sangat penting bagi dirinya.; Maka dengan tekad bulat dan hati yang dikuat-kuatkan dari rasa malu, lelaki itu memutuskan untuk mengucapkan doa yang ia sendiri anggap gila itu. Ia berdiri ragu-ragu dipojok ruangan sel penjara, dalam temaram cahaya, sehingga tidak akan ada orang yang mengamati apa yang ia lakukan. Kemudian dengan cepat, bibirnya berbisik : “TUHAN, Kau mengetahuinya aku sangat membutuhkan benda itu”. Doa selesai. Wajah lelaki itu tampak memerah. Terlalu malu bibirnya mengucapkan kata amin. Dan peristiwa itu berlalu demikian cepat, hingga lebih mirip dengan seseorang yang berludah ditempat tersembunyi. Tetapi walaupun demikian ia tidak dapat begitu saja melupakan insiden tersebut. Sore hari diucapkan, permintaan itu menggelisahkannya hingga malam menjelang tidur. Akhirnya, lelaki itu –walau dengan bersusah payah- mampu melupakan doa sekaligus odolnya itu.

Tepat tengah malam, ia terjaga oleh sebuah keributan besar dikamar selnya. “Saya tidak bersalah Pak !!!”, teriak seorang lelaki gemuk dengan buntalan tas besar dipundak, dipaksa petugas masuk kekamarnya,” Demi TUHAN Pak !!!

Saya tidak salah !!! Tolong Pak…Saya jangan dimasukin kesini

Paaaaaaaaak. .!!!”

Sejenak ruangan penjara itu gaduh oleh teriakan ketakutan dari ‘tamu baru’ itu.

“Diam !!”, bentak sang petugas,”Semua orang yang masuk keruangan penjara selalu meneriakkan hal yang sama !! Jangan harap kami bisa tertipu !!!!”

“Tapi Pak…Sssa..”

*Brrrraaaaang !!!!*

Pintu kamar itu pun dikunci dengan kasar. Petugas itu meninggalkan lelaki gemuk dan buntalan besarnya itu yang masih menangis ketakutan.

Karena iba, lelaki penghuni penjara itupun menghampiri teman barunya.

Menghibur sebisanya dan menenangkan hati lelaki gemuk itu. Akhirnya tangisan mereda, dan karena lelah dan rasa kantuk mereka berdua pun kembali tertidur pulas

Pagi harinya, lelaki penghuni penjara itu terbangun karena kaget. Kali ini karena bunyi tiang besi yang sengaja dibunyikan oleh petugas. Ia terbangun dan menemukan dirinyanya berada sendirian dalam sel penjara. Lho mana Si Gemuk, pikirnya. Apa tadi malam aku bemimpi ? Ah masa iya, mimpi itu begitu nyata ?? Aku yakin ia disini tadi malam.

<“Dia bilang itu buat kamu !!”, kata petugas sambil menunjuk ke buntalan tas dipojok ruangan. Lelaki itu segera menoleh dan segera menemukan benda yang dimaksudkan oleh petugas. Serta merta ia tahu bahwa dirinya tidak sedang bermimpi

“Sekarang dia dimana Pak ?”, tanyanya heran.

“Ooh..dia sudah kami bebaskan, dini hari tadi…biasa salah tangkap !”, jawab petugas itu enteng, ”saking senangnya orang itu bilang tas dan segala isinya itu buat kamu”. Petugas pun ngeloyor pergi.

Lelaki itu masih ternganga beberapa saat, lalu segera berlari kepojok

ruangan sekedar ingin memeriksa tas yang ditinggalkan Si Gemuk untuknya.

Tiba-tiba saja lutunya terasa lemas. Tak sanggup ia berdiri. “Ya..TUHAAANNN !!!!”, laki-laki itu mengerang. Ia tersungkur dipojok ruangan, dengan tangan gemetar dan wajah basah oleh air mata. Lelaki itu bersujud disana, dalam kegelapan sambil menangis tersedu-sedu. Disampingnya tergeletak tas yang tampak terbuka dan beberapa isinya berhamburan keluar. Dan tampaklah lima kotak odol, sebuah sikat gigi baru, dua buah sabun mandi, tiga botol sampo, dan beberapa helai pakaian sehari-hari.

Kisah tersebut sungguh-sunguh kisah nyata. Sungguh-sungguh pernah terjadi. Dan aku mendengarnya langsung dari orang yang mengalami hal itu. Semoga semua ini dapat menjadi tambahan bekal ketika kita meneruskan berjalan menempuh kehidupan kita masing-masing. Jadi suatu ketika, saat kita merasa jalan dihadapan kita seolah terputus. Sementara harapan seakan menguap diganti deru ketakutan, kebimbangan dan putus asa.

Pada saat seperti itu ada baiknya kita mengingat sungguh-sungguh bahkan Odol pun akan dikirimkan oleh Surga bagi siapapun yang membutuhkannya. Apalagi jika kita meminta sesuatu yang mulia. Sesuatu yang memuliakan harkat manusia dan IA yang menciptakan mereka.

Seperti kata seorang bijak dalam sebuah buku : “*Seandainya saja engkau mengetahui betapa dirimu dicintai-NYA, hati mu akan berpesta pora setiap saat.(sumber)
Read more »

Senin, 22 November 2010

TELUR KURA-KURA

Isa Alamsyah

Di sebuah hutan, ada seekor kura-kura yang sangat kelelahan karena baru saja bertelur.
Rasanya ia ingin makan enak, tapi ia tidak ingin meninggalkan telur-telurnya tanpa penjagaan.
Lalu sang kura-kura pergi menemui temannya seekor kuda dan memintanya untuk menjaga telur-telurnya karena ia ingin pergi mencari makan. Ia mewanti-wanti sang kuda untuk menjaga baik-baik telurnya dan kuda pun setuju.

Di sungai kura-kura melihat anak-anak udang berenang-renang sangat menggiurkan.
Tentu saja ini merupakan santapan yang enak, pikirnya dalam hati.
Kura kura berenang mendekat siap menyantap udang...
Tiba-tiba...dung...dung....dung....
Sebuah genderang perang terdengar di seluruh hutan.

Mendengar genderang perang, kuda langsung mengambi posisi berdiri tegap siap pada posisi tempur.
Tanpa sengaja sang kuda menginjak telur-telur kura-kura dan memecahkan semuanya.

Kura-kura yang panik mendengar genderang perang juga segera kembali untuk menjaga ke telur-telurnya.
Tapi betapa sedih ia melihat telur-telurnya hancur. Apalagi ternyata tidak ada perang.
Ia marah pada kuda yang tidak menjaga telurnya dan melaporkan masalah ini pada raja hutan.

Raja bertanya kepada kuda kenapa ia menghancurkan telur kura kura.
"Aku tidak sengaja, karena ada genderang perang yang ditabuh monyet aku langsung berdiri siap, menghentak-hentakkan kaki, dan mengambil posisi siap tempur" kata kuda menjelaskan.

"Berarti ini dipicu oleh genderang perang yang ditabuh monyet. Segera panggil monyet," titah raja.
Setelah monyet datang, raja bertanya kepada monyet kenapa ia memukul genderang perang.
"Aku memukul genderang perang karena melihat gajah-gajah mengasah gading mereka bersiap untuk perang," jawab monyet.


"Berarti ini dipicu oleh aktivitas gajah mengasah gading mereka. Segera panggil gajah," titah raja.
Setelah gajah datang, raja bertanya kepada gajah kenapa ia mengasah gading bersiap untuk perang.
"Aku mengasah gading karena melihat badak mempertajam cula mereka untuk perang," jawab gajah.

"Berarti ini dipicu oleh aktivitas badak mempertajam cula mereka. Segera panggil badak," titah raja.
Setelah badak datang, raja bertanya kepada badak kenapa ia mempertajam culanya untuk bersiap perang.
"Aku mempertajam cula karena melihat beruang mengasah cakar dan giginya untuk bersiap perang," jawab badak.

"Berarti ini dipicu oleh aktivitas beruang mengasah gigi dan cakarnya. Segera panggil beruang," titah raja.
Setelah beruang datang, raja bertanya kepada beruang kenapa ia mengasah gigi dan taringnya untuk bersiap perang.
"Aku melakukannya karena ketika berada di sungai aku melihat para udang bersiap dengan tanduk mereka pada posisi siap tempur, " jawab beruang.

"Berarti ini dipicu oleh aktivitas udang yang bersiap dengan posisi tempur dengan tanduknya, segera panggil udang," titah raja.
Setelah udang datang, raja bertanya kepada udang kenapa mereka menyiapkan tanduk mereka pada posisi siap tempur sehingga memicu semua masalah.
"Tentu saja kami dalam posisi tempur. Karena kami melihat ada kura-kura datang dan terlihat sangat ingin menerkam anak-anak kami yang sedang bermain, " jawab udang membela diri.

"Berarti ini dipicu oleh kura-kura yang bersiap memakan anak-anak udang," kata raja menyimpulkan.
Raja kemudian menengok pada kura-kura yang melaporkan kasus pecahnya telurnya.
"Apakah benar kamu kura-kura bersiap memakan anak-anak udang?" tanya raja ke kura-kura untuk memastikan.

"Betul tuan raja, saya memang berniat memakan anak-anak udang," jawab sang kura kura menyesal.
"Akhirnya kita bisa lihat bagaimana kejadian ini bermula, ternyata semua ini bermula dari kamu sendiri!" seru raja memutuskan.
Kura-kura pun berlalu, menyesali tindakannya yang memicu semua peristiwa yang mengakibatkan telurnya hancur.


Apa hikmahnya?
Kadang kita dengan mudah menyalahkan orang lain atas suatu peristiwa, padahal kita punya andil dalam kejadian tersebut.

Ada ayah yang marah karena anaknya menginjak piring makanannya yang diletakkan di lantai, padahal seharusnya piring tidak diletakkan di lantai.

Ada orang tua marah pada anaknya yang malas belajar, padahal sejak kecil orang tua memberikan pola hidup yang memanjakan anak.

Ada bos yang marah karena anak buahnya tidak disiplin padahal ia sendiri sering mencontohkan datang terlambat.

Ada guru yang marah karena muridnya malas, padahal ia tidak mampu membangkitkan motivasi belajar.

Dan banyak lagi contoh kejadian yang membuat kita marah padahal tanpa sadar kita juga ikut andil menyebabkannya.
Apakah Anda punya contoh tambahan?
Ada pengalaman pribadi?

Mohon komentarnya di http://on.fb.me/kura_kura
Read more »

Pohon dan Surga

Oleh: Achmad Siddik Thoha

Bila mendengar surga, maka pikiran kita membayangkan sebuah alam yang indah dan suasana yang tenang dan damai. Alam yang indah selalu digambarkan dengan pepohonan yang rindang nan hijau penuh dengan buah dan bunga. Kemudian juga sungai-sungai jernih yang mengalir di antara pepohonan. Buah-buahan yang mudah dijangkau dan tumbuh kembali setelah dipetik adalah salah satu gambaran lebih detil tentang surga.

Surga yang sebenarnya merupakan sesuatu yang tak pernah dilihat mata, didengar telinga dan terlintas dalam benak kita. Namun banyak bahasan dalam kitab suci ketika berbicara surga tak lepas dari pohon. Pohon bagian dari makhluk yang menghuni surga. Pohon dengan buah-buahannya serta air yang mengair dibawahnya merupakan fasilitasi dari-Nya untuk penghuni surga.

Penghuni surga menyukai pohon. Penghuni surga mendapat kenikmatan salah satunya dari pohon. Keteduhan, hijau daunnya, bunga dan buahnya merupakan kenikmatan tersendiri bagi penghuni surga.

Tentu saja kita menikmati suasana surga meski masih hidup di dunia. Surga tak hanya kisah akhirat atau masa sesudah mati. Banyak manusia yang ingin menikmati gambaran surga di dunia. Lihatlah kota-kota yang dipercantik dengan taman-taman yang indah. Orang-orang Arab pun menghiasi rumahnya dengan pepohonan dan menikmati buah darinya. Banyak orang asing datang ke negara tropis dengan alasan bahwa disinilah mereka menemukan surga.

Secara alamiah manusia menyukai keindahan. Keindahan akan membawa pada suasana tenang dan damai. Keindahan laksana di surga. Secara alamiah pula seharusnya semua kita menyukai pohon karena ia bagian dari penghuni keindahan tak terbayangkan, surga.

Sangat mengherankan bila banyak orang yang enggan melihat pohon bahkan membabatnya. Sangat aneh melihat orang menebang pepohonan dan memilih tanah-tanahnya tandus. Apakah mereka sudah tidak punya selera keindahan. Apakah tak pernah terbersit bahwa nanti ada surga yang dipenuhi pepohonan.

Saya bertanya dalam hati ”Layakkah orang yang tidak menyukai keindahan dan manfaat pohon dengan menebangnya sembarangan, membakarnya tanpa alasan jelas menikmati surga yang sesungguhnya? Apakah mereka lebih menyukai tanah tandus, panas dan tak ada sungai yang mengalir?”. Surga saya rasa tidak untuk orang-orang seperti itu.

Maka, bagi kita yang masih menginginkan surga baik di dunia maupun di akhirat, cintailah pohon. Berharaplah kita nanti akan bertemu dengan pepohonan yang rindang nan hijau dengan buah berlimpah untuk kita petik


*ditulis saat menunggu pesawat tujuan Medan di ruang tunggu Bandara Soekarno Hatta Cengkareng,26 Januari 2010, pukul 06.36*

Achmad Siddik Thoha
siddikthoha@yahoo.com
Read more »

Sepotong Daging, Membuahkan Surga

REPUBLIKA.CO.ID, Anak itu tidak mati digorok ayahnya. Ia justru jadi seorang mulia sebagaimana sang ayah. Begitu mulia hingga nama keduanya terus disebut-sebut. Bahkan, hingga 4.000 tahun kemudian setelah lewat masa hidupnya. Mereka adalah Ismail dan Ibrahim, rasul kekasih Allah SWT. Mereka menjadi sarana Tuhan untuk mengajar manusia: sepotong daging bisa menjadi jalan ke surga.

Gambaran surga dari sepotong daging terlihat di pelataran Masjid Istiqlal, kemarin. Juga, di pelataran masjid-masjid lain di seluruh dunia. Lihatlah wajah orang-orang yang antre di sana. Harga daging jelas tidak seberapa. Di pasar, hanya sekitar Rp 55 ribu sekilo. Daging bercampur tulang pasti lebih murah.

Daging tak seberapa itu telah membuat berjuta wajah manusia berseri. Daging itu begitu berharga buat mereka. Apa imbalan terpantas bagi yang membuat berseri wajah kaum miskin, selain surga? Berkurban seperti bukan hal istimewa. Sekadar menyisihkan uang untuk membeli sapi atau kambing untuk dipotong. Dagingnya dibagikan kepada fakir miskin.
Saban tahun, setiap Idul Adha, umat Islam melakukannya. Semua tahu itu. Tak ada yang baru. Tapi, perhatikan betul fenomena pembagian daging kurban. Cermati wajah-wajah mereka--penerima daging kurban. Ada pelajaran luar biasa yang dapat dipetik dari fenomena kurban.

Setidaknya, itu yang saya rasakan pada Idul Adha kali ini. Saya tahu, di sekitar kita banyak warga miskin. Sehari-hari, saya juga selalu berinteraksi dengan orang miskin, baik itu di lingkungan rumah maupun tempat kerja. Data statistik juga menunjukkan jumlah absolut warga miskin Indonesia masih besar. Berlipat kali total penduduk Brunei tentu. Tapi, saya tak menduga, warga miskin benar-benar sangat banyak.

Besar kerumunan warga yang menerima daging kurban di Istiqlal, misalnya, sangat mencengangkan. "Di Jakarta, yang pusat kekuasaan saja, masih begitu banyak orang miskin. Apalagi di daerah," kata seorang teman. Negeri ini negeri makmur. Kekayaan alamnya berlimpah ruah. Semestinya seluruh rakyatnya relatif sejahtera. Apalagi, kita sudah 65 tahun merdeka.

Jika ternyata masih terdapat begitu banyak warga miskin--yang sepotong daging pun buat mereka sedemikian berharga--tentu ada yang keliru dalam mengelola negeri ini. Kekeliruan itu bukan salah satu-dua orang. Kekeliruan itu tentu salah banyak orang. Maka, seluruh bangsa ini perlu turun tangan untuk lebih peduli memperbaiki keadaan. Setidaknya, itulah salah satu pelajaran dari ibadah kurban.

Berkurban bukan sekadar menyembelih sapi atau kambing. Berkurban juga mencakup kerelaan sepenuh hati memberi perhatian dan membantu sesama. Ibadah kurban setahun sekali dengan menyembelih hewan merupakan sarana pengingat agar kita--setiap saat dan setiap keadaan--selalu siap berkurban untuk kebaikan bersama. Hanya orang-orang yang siap berkurban bisa menjadi benar-benar mulia. Itu yang ditunjukkan Nabi Ibrahim dan Ismail. Hanya bangsa-bangsa siap berkurban yang dapat menjadi bangsa mulia sejati.

Kerelaan berkurban pada era materialistis sekarang terasa menipis. Dalam melangkah, kita cenderung makin mengabaikan pertimbangan `apa yang terbaik bagi semua'. Kita cenderung mengedepankan `apa untung saya' walaupun kadang dengan merugikan orang lain, termasuk merugikan masyarakat luas. Sikap seperti itu sangat meluas. Bahkan, di kalangan para pejabat dan tokoh sekalipun. Wajar bila kemiskinan bukan teratasi, melainkan malah menahun.

Berkurban mengingatkan kita semua atas hal itu. Berkurban mengingatkan begitu banyak orang tak mampu. Semestinyalah kita terdorong berbuat membantu mereka sesuai kapasitas masing-masing. Apalagi bila kita berkuasa serta mampu mengarahkan kebijakan publik. Dengan semangat berkurban, semestinya seluruh bangsa bahumembahu mengatasi kemiskinan. Sebuah langkah, yang bila kita jalankan secara sungguh-sungguh, akan berhadiahkan sepotong surga. Tidakkah kita mengharap surga sebagai ujung perjalanan di dunia ini?
Read more »

Selasa, 16 November 2010

Mereka Teladan Pengorbanan

Bencana yang melanda bumi pertiwi tak selalu memilukan. Ada cahaya berkilau di balik timbunan debu dan reruntuhan puing bangunan. Dibalik bencana Tuhan memperlihatkan keajaiban sosok mulia disana.

Mereka, yang harus merasakan hiruk pikuk bencana, tetap bekerja semampunya. Mereka, yang dalam kondisi layak dibantu justru berkorban untuk yang lain. Juga spontanitas kepedulian yang berpijak pada empati dari berbagai anak bangsa di penjuru negeri yang sungguh mengharukan.

Simaklah beberapa kisah keteladanan luar biasa yang direkam warga Yogyakarta tentang sosok ’pahlawan’ tanpa gelar di gegap gempitanya bencana Merapi.

Seorang pedagang kecil ambil tabungan haji, sediakan kebutuhan pengungsi.
Sebuah rumah sederhana berkamar tiga tampung 100 pengungsi Merapi.
Sebuah rencana walimah, anggaran dan berasnya dialihkan ke barak pengungsi Merapi.
Seorang penjual gudheg, sedekahkan dagangan sepekan untuk Merapi.
Juru masak hotel berbintang ambil cuti tiga pekan, layani dapur umum Merapi.
Tukang pijat dan tukang cukur hibahkan keahlian, keliling barak-barak.
Para dokter rela meninggalkan ruang nyaman ber-AC dan keberlimpahan untuk berdebu-debu bersama pengungsi.
Seorang dokter hewan keliling evakuasi ternak, suntikkan nutrisi untuk sapi-sapi.
Pemulia insan nan tak gentar abu dan gemuruh api, yang terus berjuang temukan warga, hidup maupun mati.
Pemuda-pemudi yang kembalikan dirinya jadi kanak-kanak, bermain bersama bocah-bocah pengungsi.
Seorang gadis yang tetap setia menemani dan membantu keluarga dan tetangganya di stadion olah raga dengan menolak tawaran tempat penampungan yang lebih nyaman.

Kisah mengharu biru yang tak menarik untuk diliput. Cerita nyata yang tak muncul di pemberitaan. Fakta tanpa rekayaasa yang luput dari bidikan kamera. Semua Tuhan perlihatkan sebagai bukti bahwa pengorbanan dalam bekerja takkan tersia. Siapa yang berkorban meski dalam sunyi tak bertepi, ia akan mendapat tempat yang mulia.

Sahabat, mereka yang bekerja dan berkorban telah menanam benih kebajikan dalam diri manusia. Benih kebajikan itu akan terus tumbuh dan berkembang karena dipupuk dengan cinta dan kejujuran disana. Bekerja tanpa berkorban laksana pohon yang ditanam tanpa dirawat dan dipupuk. Hasil kerjanya hanyalah karya bisu tanpa makna. Berkorban tanpa kerja hanyalah mimpi memanen buah tanpa menanam pohon.

Kisah pengorbanan mereka menginspirasi yang lain untuk bangkit. Bangkit membebaskan diri dari kesedihan, ketakutan, ketidakberdayaan, egoisme dan perpecahan menuju semanggat kerja keras, kepedulian dan pengorbanan tanpa henti. Mereka yang bekerja dan berkorban selalu menanam keyakinan bahwa cinta dan kejujuran akan menumbuhkan amal mereka. Amal yang terus tumbuh, kokoh dan meluas manfaatnya bagi sesama meski dalam sunyi yang panjang, tanpa nisan tergores nama, tanpa pangkat tersandang, tanpa plakat mengkilat atau tanpa upacara meriah di pemakaman.(siddikthoha)
Read more »

Jumat, 29 Oktober 2010

Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit

Oleh : Tyas Effendi dan Achmad Siddik Thoha

Seorang bocah laki-laki mengayuh sepedanya perlahan, menyusuri sebuah jalan setapak panjang. Di belakangnya, duduk seorang gadis yang menikmati senja dengan senang. Di ujung jalan setapak itu terhampar padang rumput yang agak gersang. Tanaman-tanaman liar tumbuh sebebas mereka, memenuhi sudut-sudut tanah lapang. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya langit biru dan kawanan alang-alang.

Bocah laki-laki itu menghentikan sepedanya di bawah sebatang pohon yang tumbuh sendiri. Kedua bocah itu turun dari sepeda, berjalan mengikuti rambatan bunga alamanda.

Setelah lama bermain-main dengan alam, mereka duduk di bawah pohon, memperhatikan induk-induk burung yang pulang dari pengembaraan. Mendadak angin bertiup agak kencang. Daun-daun kering di atas mereka berguguran. Biji-biji bunga Cottongrass, rumput berbunga putih dan ringan seperti kapas, yang berwarna putih beterbangan ringan. Betapa klasik dan mengesankan.

“Wah, indah sekali. Kemana kira-kira mereka akan terbang?” tanya si anak laki-laki sembari memandangi biji seringan kapas itu.

Si gadis kecil memetik satu di antara rimbun Cottongrass itu, lalu meniupnya pelan, membiarkan biji-bijinya beterbangan. “Mereka akan menjelajah dunia, mencari sudut-sudut yang akan menjadi persinggahan kedua.”

“Merantau ke tanah yang baru?” tanya anak laki-laki itu.

Si gadis kecil menganggukkan kepalanya. “Selagi masih bisa tumbuh, mereka akan terbang bersama angin dan kemudian mendarat di tempat yang lebih baik.”

Lama mereka terduduk di sana, hanya ditemani senja. Akhirnya, bersama dengan matahari yang merangkak tenggelam, sepasang sahabat itu beranjak pulang. Mereka menyusuri padang alang-alang yang luas terbentang. Jalan setapak terlihat semakin panjang. Seberkas impian samar terbayang.

*****

Manusia hidup di dunia ini sebagai pemakmur bumi. Kita diberi kesempatan untuk merasakan alam, juga diberi tugas untuk menjaga alam. Meminjam judul karya seorang sastrawan, Taufiq Ismail, Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit, kita menemukan ada pesan yang tersimpan di dalamnya. Memanfaatkan hidup di bumi, dunia kita beramal.

Sahabat, seperti Cottongrass yang hidup mengakar dipermukaan tanah, terus menguasai lahan dan memperindah alam. Bunganya begitu menawan dan membuat bumi ini semakin cantik. Ia kemudian mengembara melalui bijinya yang ringan, terbang mencari lahan-lahan baru yang lebih baik untuk melukis keindahan.

Kebaikan disertai iman pada-Nya itu laksana akar yang menghujamkan dirinya ke tanah sedalam mungkin. Kebaikan akan terus ada karena ia mengakar dan terus menumbuhkan tunas-tunas dan biji-baiji baru. Sebaliknya, perbuatan tanpa dasar keyakinan pada-Nya sebesar apa pun yang dibangun, ia akan musnah bak debu di atas batu licin yang terhembus angin. Tak ada sisa, karena Tuhan takkan membiarkan perbuatan dengan niat selain-Nya menempati lahan yang indah.

Sahabat, jadikan kebaikan kita mengakar kuat ke bumi dan terbang tinggi menggapai langit menuju pada-Nya. Wujudkan impian-impian dan jelajahilah sudut-sudut bumi yang telah dipersembahkan oleh Sang Pencipta. Namun, ingatlah pula bahwa sesungguhnya, tujuan kita adalah untuk menggapai ke langit, yaitu bertemu dengan kehidupan yang kekal.
Read more »

Rabu, 27 Oktober 2010

Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit

Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit
Oleh : Tyas Effendi dan Achmad Siddik Thoha

Seorang bocah laki-laki mengayuh sepedanya perlahan, menyusuri sebuah jalan setapak panjang. Di belakangnya, duduk seorang gadis yang menikmati senja dengan senang. Di ujung jalan setapak itu terhampar padang rumput yang agak gersang. Tanaman-tanaman liar tumbuh sebebas mereka, memenuhi sudut-sudut tanah lapang. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya langit biru dan kawanan alang-alang.

Bocah laki-laki itu menghentikan sepedanya di bawah sebatang pohon yang tumbuh sendiri. Kedua bocah itu turun dari sepeda, berjalan mengikuti rambatan bunga alamanda.

Setelah lama bermain-main dengan alam, mereka duduk di bawah pohon, memperhatikan induk-induk burung yang pulang dari pengembaraan. Mendadak angin bertiup agak kencang. Daun-daun kering di atas mereka berguguran. Biji-biji bunga Cottongrass, rumput berbunga putih dan ringan seperti kapas, yang berwarna putih beterbangan ringan. Betapa klasik dan mengesankan.

“Wah, indah sekali. Kemana kira-kira mereka akan terbang?” tanya si anak laki-laki sembari memandangi biji seringan kapas itu.

Si gadis kecil memetik satu di antara rimbun Cottongrass itu, lalu meniupnya pelan, membiarkan biji-bijinya beterbangan. “Mereka akan menjelajah dunia, mencari sudut-sudut yang akan menjadi persinggahan kedua.”

“Merantau ke tanah yang baru?” tanya anak laki-laki itu.

Si gadis kecil menganggukkan kepalanya. “Selagi masih bisa tumbuh, mereka akan terbang bersama angin dan kemudian mendarat di tempat yang lebih baik.”

Lama mereka terduduk di sana, hanya ditemani senja. Akhirnya, bersama dengan matahari yang merangkak tenggelam, sepasang sahabat itu beranjak pulang. Mereka menyusuri padang alang-alang yang luas terbentang. Jalan setapak terlihat semakin panjang. Seberkas impian samar terbayang.

*****

Manusia hidup di dunia ini sebagai pemakmur bumi. Kita diberi kesempatan untuk merasakan alam, juga diberi tugas untuk menjaga alam. Meminjam judul karya seorang sastrawan, Taufiq Ismail, Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit, kita menemukan ada pesan yang tersimpan di dalamnya. Memanfaatkan hidup di bumi, dunia kita beramal.

Sahabat, seperti Cottongrass yang hidup mengakar dipermukaan tanah, terus menguasai lahan dan memperindah alam. Bunganya begitu menawan dan membuat bumi ini semakin cantik. Ia kemudian mengembara melalui bijinya yang ringan, terbang mencari lahan-lahan baru yang lebih baik untuk melukis keindahan.

Kebaikan disertai iman pada-Nya itu laksana akar yang menghujamkan dirinya ke tanah sedalam mungkin. Kebaikan akan terus ada karena ia mengakar dan terus menumbuhkan tunas-tunas dan biji-baiji baru. Sebaliknya, perbuatan tanpa dasar keyakinan pada-Nya sebesar apa pun yang dibangun, ia akan musnah bak debu di atas batu licin yang terhembus angin. Tak ada sisa, karena Tuhan takkan membiarkan perbuatan dengan niat selain-Nya menempati lahan yang indah.

Sahabat, jadikan kebaikan kita mengakar kuat ke bumi dan terbang tinggi menggapai langit menuju pada-Nya. Wujudkan impian-impian dan jelajahilah sudut-sudut bumi yang telah dipersembahkan oleh Sang Pencipta. Namun, ingatlah pula bahwa sesungguhnya, tujuan kita adalah untuk menggapai ke langit, yaitu bertemu dengan kehidupan yang kekal.
Read more »

Kamis, 21 Oktober 2010

Merawat dengan Curiga

Seorang petani mempunyai adik di kota yang menjadi tukang kebun. Petani ini memiliki kebun yang luas penuh dengan pohon-pohon buah lebat dan bagus. Kemampuan petani merawat kebun dan pohon-pohonnya yang indah terkenal di mana-mana.

Suatu hari petani pergi ke kota untuk mengunjungi adiknya. Dia terkejut pada deretan pohon-pohon yang tumbuh kurus dan merana. Buah itu juga tidak berbuah dan berbunga.

”Adikku," kata sang petani. "Aku akan memberikanmu sebuah pohon mangga, yang terbaik dari kebunku. Kamu, anak cucumu akan bisa menikmatinya kelak."

Setelah pulang ke kebunnya, petani memanggil para pekerja dan memerintahkan mereka untuk mengambil bibit pohon yang sudah tinggi dan mengangkutnya ke kebun adiknya. Tibalah bibit pohon mangga yang yang bagus itu di rumah sang Adik, Keesokan paginya sang adik mulai bertanya-tanya di mana dia harus menanamnya.

Sang adik berbisik pada dirinya sendiri.
"Kalau aku menanamnya di atas bukit, angin dan hujan bisa merontokkan bunga dan buah yang lezat sebelum matang. Jika kutanam dekat ke jalan, orang lewat akan melihat dan buah manggaku yang enak ini. Mereka akan mencuri mangga-manggaku. Tapi kalau aku menanam terlalu dekat pintu rumah, pembantu atau anak-anak mudah sekali memetik buah, nanti buahnya tidak sempat banyak.”

Setelah ia berpikir mendalam, akhirnya sang adik menanam pohon mangga itu di gudang, "Nah…pencuri-pencuri itu tidak akan berpikir untuk mencarinya di sini." Ia mengangguk tanda puas.

Selang beberapa lama, pohon itu belum memberi bunga yang mekar dan buah yang berkembang. Pada tahun pertama dan kedua pohon itu tetap tanpa buah yang diharapkan. Dengan kesal dia mendatangi kakaknya, dan mencelanya dengan marah:

"Kamu telah menipuku. Kamu memberiku sebuah pohon yang tak mau berbuah. Ini adalah tahun ketiga dan belum menumbuhkan apa-apa selain daun!"

Sang kakak lalu berkunjung ke rumah adiknya. Ketika melihat di mana pohon itu ditanam saudaranya, ia tertawa dan berkata:

"Kamu telah menanam pohon di mana udaranya sangat lembab, tidak ada matahari dan kehangatan disini. Bagaimana, mungkin kamu bisa berharap bunga dan buah-buahan?
Kamu telah menanam pohon dengan penuh keserakahan dan perasaan curiga. Bagaimana mungkin, kamu bisa mengharapkan pohon ini bermurah hati padamu dengan memberi buah yang berlimpah? "

****

Sahabat, Seandainya mangga itu adalah seorang anak, murid, staf atau masyarakat yang kita didik, maka dia akan tumbuh sesuai dengan cara kita memandang dan merawatnya. Merawat, mendidik, membimbing atau membina dengan penuh curiga, kekhawatiran yang tidak wajar dan harapan yang berlebihan akan melahirkan “buah” yang justru tidak sesuai harapan.

Kecurigaan, kekhawatiran dan harapan tak wajar tidak akan berbuah kebaikan karena kita menumbuhkannya tidak dengan murah hati. Kemurahan hati lah yang akan memberi limpahan “buah” kesenangan, prestasi, kebanggaan dan kebahagiaan dari apa yang kita rawat.(siddikthoha)
Read more »

Rabu, 20 Oktober 2010

Menjadi Matahari Bagi Semesta

Oleh : Teita Futsufeita

Kami adalah mahasiswa program profesi, dan dia, seorang kondektur bis. Kecelakaan membuatnya harus kehilangan ¾ bagian tangan kanannya. Malam itu di pangkalan, dia tidak menyadari ketika bis itu mundur. Tangannya berada diantara bis dan pagar besi. Terjepit dan hancur sehingga harus diamputasi, Kurang lebih begitulah kesimpulan yang saya peroleh dari cerita bapak itu.

Lukanya merah, darah. Walau terdapat jahitan di sisi-sisinya, kami masih bisa melihat bagian dalam yang tertutup kulit dari lengan itu. Daging bagian dalam bahkan tulang dan pembuluh darah itu nampak. Kami harus memberinya obat pengurang nyeri yang disuntikan disisi-sisi lukanya untuk mengurangi rasa sakit ketika luka itu kami bersihkan. Walau begitu, dia masih harus menggigit bantal ataupun kain saat luka dibersihkan. Keringat mengucur memenuhi kening, tangan, dan badannya yang kokoh, dengan nafasnya yang memburu.

Selalu begitu, tak bisa hanya tangan kami yang bekerja dalam keheningan atau kami membisu tanpa kata, apapun. Dan dengan seperti itu, kami dapatkan cerita kehidupannya.

Sebenarnya dia bukan pasien utama kami, sehingga kami tak memiliki waktu banyak untuk berinteraksi dengannya. Namun kami tak bisa mengabaikan dan membiarkannya berlalu, tanpa menyapanya.

“Assalamu’ailakum, Pak! Kadang hanya seperti itu ketika pagi baru tiba di ruangan.

“Gimana sekarang, sudah lebih oke, Pak?” atau begitu saat kami hanya melewatinya dengan wajah yang cerah tentunya

“ Obat dulu ya Pak!”

“ Gimana, sudah siap tempur lagi?” Begitu saat hendak kami bersihkan lukanya. Yang tak jarang bapak ini tersenyum getir sambil mengumpulkan kekuatan untuk bertempur melawan nyeri.

“Hayo…, sudah makan belum nih…?” saat kami melewatinya untuk istirahat.

Ah, waktu memang cepat berlalu. Tidak terasa, sudah 3 hari berinteraksi dengannya dengan interaksi-interaksi singkat. Ketika hari terakhir di ruangan itu, bertiga, kami coba mencari bapak tersebut untuk berpamitan, namun tidak kami temukan di ruangannya. Ya sudah, kami hanya pamit kepada istrinya. Namun, ketika kami keluar dari pintu ruangan,

“Adik-adik, sebentar!”

Ternyata bapak itu. Ia berada diantara banyak orang yang duduk dan berdiri di halaman ruangan.
Kami hampiri, dan berbincang sejenak. Memberikan sedikit “bekal” untuk proses penyembuhannya.

“ Terimakasih, adik-adik sudah memperlakukan saya dengan sangat baik, walau kami ini hanya ‘orang kecil’…” begitu katanya disela-sela perbincangan kami

Saya sedikit mengerutkan kening, “orang kecil?” Dalam pandangan kami tak ada ‘kecil’ atau ‘besar’.

“Adik-adik tahu, sapaan dan sikap ramah adik-adik, perhatian yang mungkin bagi adik-adik adalah hal kecil tapi tidak bagi kami. Bagi kami, itu sangat berarti. Kami merasa dipandang, diperhatikan, dan semua itu membantu kami yang harus berjuang melawan penyakit kami. Jika adik-adik tetap bersikap seperti itu, saya percaya, adik-adik akan menjadi ‘orang yang besar’.”

Seketika hati kami melambung sambil tersipu.

“Ya Allah, sebegitukah pengaruhnya?” (kata yang hanya mampu didengar hati saja). Padahal kami tak memberikan apa-apa. Hanya merawat lukanya, ‘Memberikan telinga’ walau singkat. Pamit ketika pulang. Sapaan ringan dengan wajah yang cerah. Perhatian-perhatian kecil yang kami anggap adalah hal yang biasa bagi kami. Ah, Senyuman secerah mentari kami ternyata memberi kesan yang dalam baginya walau dalam singkat.

Kami tahu, kami meninggalkan ruangan itu dengan membawa senyum tidak hanya di wajah kami, tapi juga di hati kami. Kami terharu juga bahagia, kawan. Bukan karena pujiannya, namun kami tidak menyangka saja bahwa keberadaan kami yang tidak seberapa itu ternyata memberikan sebuah makna baginya.

Memang tidak mudah untuk tersenyum saat hati ingin menangis. Tetap cerah walau sebenarnya awan mendung menyelimuti diri. Tapi bapak, kata-katanya adalah pengingat bagi kami. Tak boleh ada awan mendung yang menutupi kami saat berhadapan dengan semesta, setidaknya dengan mereka.

Semoga keberadaan kita mampu memberikan makna berarti bagi diri juga semesta, walau bagaimanapun ‘cuacanya’. Seperti kata Bunda Helvy Tiana Rosa :"kalau harimu lagi nggak cerah, tetap saja cerahkan hari orang lain dengan keberadaanmu dan sapamu niscaya harimu akan lebih bermakna.” Ya. Bagai mentari yang senantiasa tulus menyapa hari-hari kita dengan sinar terangnya. Membagikan cahayanya dengan adil pada semua makhluk. Yang keberadaannya mampu memberi kehangatan bagi siapapun yang ia temui. Matahari yang mencerahkan hari-hari semesta.

Semangat berbagi dan tetaplah cerah, sahabat!
Read more »

Selasa, 19 Oktober 2010

Demi Emas dan Tembaga

Ketika membaca petambang Chilie terkubur di dalam tanah sedalam 700 meter ada pertanyaan yang mengusik saya. 
Apa yang yang mereka cari di tanah sedalam itu?
Sebegitu pentingkah, sebegitu mahalkah sampai harus menggali sejauh itu?
Ternyata yang mereka cari adalah tembaga dan emas.
Mereka harus menggali sedalam 700 meter di bawah tanah.
Orang Chilie harus menggali sedalam itu untuk mendapat tembaga dan emas.
Begitu juga kebanyakan bangsa lain.
Bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia tidak perlu menggali sedalam itu.
Bahkan tembaga dan emasnya muncul di atas permukaan tanah.
Jika tahu sejarah penemuan tambang tembaga di tembagapura Papua, Anda pasti tahu maksud saya (Tambang tembaga ini kemudian juga diungkap sebagai tambang emas terbesar di dunia, silakan baca Grasberg mine di wikipedia). 
Di Papua, tembaga tidak ditemukan di dalam tanah, bahkan menjulang ratusan meter ke atas tanah. Bahkan pantulan tembaga itu bisa terlihat dari pesawat.
Apakah bangsa Indonesia adalah bangsa yang paling beruntung dalam konteks pertambangan tembaga dan emas?
Ya, tentu saja PALING BERUNTUNG. Tanpa harus menggali dan mencari emas dan tembaga muncul sendiri.
Tapi apakah bangsa Indonesia PALING BANYAK UNTUNG?
Sayangnya, tidak sama sekali.
Saat ini menurut wikipedia Freeport-McMoRan (Amerika) menguasai 67.3% saham, PT Indocopper Investama Corporation (9.3%); Pemerintah Indonesia (9.3%); dan production-sharing joint venture with Rio Tinto Group (13%). 
Uniknya beberapa tahun lalu kontrak karya yang dimulai di masa Soeharto tersebut sudah habis, tapi bukannya menghentikan kontrak dan mengambil alih seluruh kepemilikan tambang tersebut, pemerintah malah memperpanjang kontrak dan membiarkan asing menguasai saham mayoritas. 
Saya sendiri tidak mengerti logikanya, bagaimana dengan Anda?
Kebetulan, dulu saya sempat meliput Freeport ketika bekerja di Radio Nos Belanda perwakilan Jakarta. Saat itu dalam wawancara PR Freeport bilang perjanjian Indonesia dengan Freeport hanya menyangkut tembaga saja sedangkan emas dianggap kurang lebih sebagai serpihannya saja (tidak masuk hitungan karena jumlahnya tidak signifikan - dulu mungkin ketika harga emas tidak semahal saat ini mungkin masuk akal).
Padahal ketika saya terbang ke Timika dan bertemu salah satu aktivis HAM di Papua, ia sangat yakin ada emas di tambang tersebut dan bahkan emasnya lebih besar. Kecurigaan itu tentu saja beralasan, apalagi belakangan dibangun pipa panjang puluhan km yang langsung mengantar hasil tambang ke kapal tanpa diolah terlebih dahulu. Seperti ada sesuatu yang dirahasiakan dan ingin buru-buru di bawa pergi. Emaskah?
Dengan era keterbukaan informasi, nampaknya sulit untuk mengelak ada emas dalam jumlah besar di Freeport Papua.
Wikipedia mengungkap pada tahun 2006 saja Tembagapura menghasilkan 610,800 ton tembaga, 58,474,392 grams emas dan 174,458,971 grams perak. 
Gunung tembaga dan emas tersebut kini tidak ada lagi, bahkan kini sudah menjadi lembah dan masih tetap digali. Bahkan begitu dalammya lembah di Tembagapura sampai kalau kita melihat orang di bawah menjadi sangat kecil sekali.
Jadi bayangkan, dari gunung tembaga, emas dan perak, berubah jadi lembah, artinya ada emas, perak, dan tembaga sebesar dua gunung yang sudah dikeruk. 
Tapi dua gunung emas, perak, dan tembaga tersebut tidak membawa kita menjadi bangsa yang sejahtera (Belum dihitung pertambangan besar lainnya).
Sekali lagi BERUNTUNG saja tidak cukup untuk menuju kesejahteraan.
Sampai berapa lama kita ingin menjadi bangsa yang BERUNTUNG tapi tidak pernah mendapat UNTUNG paling banyak?
Sekedar gambaran tambahan, di Venezuela, ketika menyadari ada ketidakadilan, Presiden Hugo Chavez nekat memotong semua kontrak pertambangan sebelum waktunya dan menghitung ulang kepemilikan saham, dan sejak itu Venezuela jadi jauh lebih sejahtera.
Di Indonesia sebaiknya, bagaimana ya? 
Tulisan ini bukan untuk mengkritisi pemerintah atau aparat berwenang, tapi untuk membangkitkan nurani anak bangsa, siapa saja, apapun profesi atau jabatannya untuk berpikir lebih jernih dalam mengelola kekayan alam, agar maksimal bermanfaat untuk kesejahteraan rakyat.
Semoga saja pemerintah dan elemen masyarakat bisa bekerja sama untuk mewujudkannya.

NB:
Saat ini ternyata banyak negara sedang belomba-lomba mengumpulkan emas.
Cina, India, Sri Lanka dan banyak negara ramai-ramai memborong emas, kenapa?
Untuk tahu jawabannya, dan untuk tahu bagaimana hal tersebut bisa mempengaruhi hidup Anda, Anda harus baca buku tentang DINAR karya Endy Junaedy Kurniawan yang akan kami terbitkan beberapa minggu ke depan (Judul dirahasiakan dulu).
Penulis adalah creator group di Facebook "Mata uang sesungguhnya" yang berfokus pada isu tentang Dinar Emas. Dinar emas adalah coin dinar dari emas asli bukan dinar mata uang Irak, Jordan, dsb.
Buku yang penyusunannya di-coaching langsung oleh Isa Alamsyah ini siap terbit awal November, dan akan mendobrak paradigma Anda tentang dinar emas, menabung, deposito, dan perbankan.
Buku ini sebesar dan setebal buku No Excuse! Harganya juga sama Rp 57.000
Ada satu hal yang bisa saya jamin, setelah baca buku ini, Anda akan merasa uang yang Anda keluarkan untuk membeli buku ini tidak ada apa-apanya dibanding manfaat dan kekayaan serta kesejahteraan yang akan Anda dapat setelah baca buku ini.
Kami tidak mempromosikan buku ini karena penulisnya adalah peserta Asma Nadia Writting Workshop angkatan I. Tapi kami percaya diri mempromosikan buku ini karena buku ini benar-benar akan membantu Anda merencanakan masa depan finansial dengan cara yang sama sekali tidak Anda duga sebelumnya.
Siapkan diri Anda untuk membaca buku ini, dan sambutlah masa depan finansial yang gemilang.
Hub Ronnie untuk pemesanan inden dengan harga khusus diskon 30% di 081282210742 (isa)
Read more »